Press "Enter" to skip to content

Bolak-balik Bahas Kental Manis Bukan Susu

Masih ingat perdebatan dua tahun lalu soal kental manis bukan susu? Bahasannya kini kembali trending.

Wacana itu menguat ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran tanggal 22 Mei 2018 terkait label dan iklan terkait produk susu kental manis (SKM) dan analognya.

Kepala BPOM, Peny Lukito, saat itu menjelaskan bahwa surat edaran itu dimaksudkan agar masyarakat tidak salah kaprah, mengira mengonsumsi (SKM) identik dengan konsumsi produk susu alami dengan segala nutrisinya.

Sehingga label atau iklan yang menyebut “Susu kental manis itu sehat dan baik diminum tiap hari,” atau “Kaya vitamin dan gizi yang memberi manfaat bagus bagi anak-anak,” tidak tepat. Jadi perlu ada perbaikan dalam penulisan label maupun penyampaian iklannya.

Susu kental manis sejatinya memang masih mengandung susu. Produk ini diperoleh dari pemisahan susu murni dari air. Susu yang telah pisahkan itu kemudian ditambah kekentalannya dengan gula.

Gula memang menempati porsi terbesar, sekitar 45-60% dari keseluruhan produk. Porsi susunya cukup beragam, namun biasanya tidak lebih dari 28%. Di Indonesia disyaratkan agar kandungan susunya tidak kurang dari 8%, dengan kadar protein susu minimal 6,5%.

Praktis, produk kental manis ini sebenarnya tidak untuk dikonsumsi sebagai susu. Fungsi utamanya lebih banyak pada penambah rasa manis pada produk kue, puding atau minuman manis.

Jadi, kalau kita benar-benar ingin mendapatkan manfaat dari susu setiap hari, harusnya kita memilih untuk mengkonsumsi jenis susu tanpa gula tambahan. Produk pilihan untuk ini bisa berupa baik susu segar, susu UHT, atau susu evaporasi non gula.

SKM tentu bahaya bagi bayi, juga tidak baik terlalu banyak dikonsumsi anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Bagusnya, SKM tidak dikonsumsi harian, hanya sesekali saja buat olesan makanan dan minuman.

Baca juga:  Pencalonan Gibran diwarnai Banyak Blunder

Namun, nampaknya pemahaman ini masih dirasa kurang massif di masyarakat. Ada saja yang menganggap SKM layaknya seperti susu. Ada saja bahkan kaum ibu yang memberikan SKM sebagai nutrisi bagi anak, pengganti susu formula.

Itu yang membuat pengguna media sosial di Indonesia menampilkan topik ini sebagai bahasan trending, demi mengedukasi masyarakat terkait kesehatan.

Alih-alih edukasi yang lembut, warga net nampaknya lebih memilih bentuk kampanye frontal seperti tagar #KentalManisBukanSusu yang beberapa hari terakhir trending di Twitter.

Tentu saja kampanye itu sedikit membuat merah telinga para produsen SKM. Sejatinya SKM memang masih mengandung susu. Namun, bukan untuk dikonsumsi setara seperti kita mengonsumsi susu murni. **RS

Foto: Unsplash