badak soda

Badak. Soda botolan itu kini punya tongkrongan bergaya vintage. Di kota-kota besar Anda mungkin akan menemukannya di beberapa restoran khas Tionghoa, Toba, atau Tapanuli Selatan.

Badak memang biasa diminum langsung dalam keadaan dingin, sehingga memberi sensasi sengatan sodanya. Tapi cukup banyak yang meramunya menjadi susu Badak, dimana minuman ini dicampur dengan susu kental manis dan es, yang memberi sensasi manis segar, tapi tetap terasa sengat sodanya.

Jangan heran jika ada orang yang cukup fanatik, bersusah payah menyempatkan diri untuk menikmati kesegarannya. Badak memang minuman legendaris, sudah diproduksi lebih dari seratus tahun.

Adalah Heinrich Surbeck, pria asal desa Hallau, Swiss, sosok yang begitu mencintai alam sekaligus pebisnis handal, sekaligus tokoh di balik keberadaan minuman ini.

Surbeck tiba di Sumatera Utara tahun 1902. Selain menekuni hobinya sebagai peneliti fauna, ia juga mendirikan sejumlah unit usaha seperti pabrik, hotel dan pembangkit listrik.

Salah satu pabrik yang kemudian besar adalah NV Ijs Fabriek Siantar, yang didirikannya di kota Pematang Siantar pada 1916. Pabrik inilah yang memproduksi minuman soda bermerk Badak.

Ini boleh dikatakan minuman soda paling awal di Indonesia. Jauh sebelum Coca-Cola, misalnya yang baru dikenal di Indonesia di akhir 1920-an, dan baru diproduksi di Jakarta tahun 1932.

Tak heran jika namanya begitu membekas bagi warga Sumatera Utara maupun para perantaunya yang telah melanglang ke berbagai penjuru negeri ini.

Badak dan perusahaan penghasilnya juga menjadi saksi berbagai babakan sejarah di Indonesia. Pabrik ini sempat tumbuh pesat kala Pematang Siantar menjadi salah satu sentra ekonomi besar karena menjadi bandar terkumpulnya sekian banyak hasil perkebunan di wilayah Sumatera Timur.

Baca juga:  Mengenang Kejayaan Sinetron Indonesia

Minuman yang dihasilkan pun beragam rasa, tidak hanya rasa soda biasa tapi ditambah rasa jeruk, anggur dan sarsaparilla. Pabrik ini pun juga sempat memproduksi sari buah markisa yang diekspor ke Belanda, Belgia dan Swiss.

Di zaman Jepang, meski sangat sulit, Ijs Fabriek Siantar masih tetap bertahan memproduksi Badak dengan mengakomodasi perwakilan pemerintah Jepang mengawasi jalannya produksi.

Perubahan paling signifikan pun terjadi kala revolusi sosial melanda Sumatera Timur di tahun 1946. Surbeck tewas terbunuh dalam peristiwa ini. Kedua anaknya pun mengungsi ke Eropa.

Meski demikian pabrik tetap beroperasi di bawah kordinasi para karyawannya, salah satunya adalah Elman Tanjung. Setahun kemudian, barulah putri Surbeck, Lidya Rosa kembali mengurus pabrik. Lidya, yang kemudian menikah dengan Otto yang berkebangsaan Belanda ini memimpin produksi hingga tahun 1959.

Dalam keterangan Elman Tanjug di reportase Kompas.com, suami-istri ini akhirnya kembali ke Eropa akibat gejolak nasionalisasi perusahaan asing.

Ijs Fabriek akhirnya dibeli oleh pengusaha lokal, Julianus Hutabarat dengan cara mencicil dari tahun 1969-1971. Elman Tanjung masih dipercaya Julianus untuk mengelola pabrik.

Nama perusahaan pun berubah menjadi Pabrik Es Siantar. Ini kemudian menjadi masa emas berikutnya bagi minuman Badak. Di era 1970-1980-an Badak adalah raja minuman ringan di Sumatera Utara. Tidak peduli merk besar apapun yang masuk, Badak tetap nomor satu.

Saat itu bahkan delapan varian rasa minuman soda berlabel Badak. Ada rasa jeruk, anggur, nenas, American ice cream soda, air soda, kopi, raspberry dan sarsaparila. Varian sarsaparila, bahkan pernah diekspor ke Swiss, negara asal Surbeck.

Namun sejak pertengahan 1990-an dominasi itu mulai berkurang. Kini Badak hanya diproduksi dengan jumlah 500 krat per bulan, jauh dibanding dulu yang sempat mencapai 40.000 krat. Varian rasanya pun kini hanya tinggal dua yaitu sarsaparila dan soda.

Baca juga:  Menulis Tegak Bersambung yang Melelahkan Namun Penting

Meski demikian, ia tetap punya penggemar fanatik. Tidak hanya di Pematang Siantar atau Medan. Ia banyak dijumpai di banyak kota besar lain. Meski dalam jumlah terbatas. **RS

Foto: Indonesia.go.id

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.