Press "Enter" to skip to content

Ancaman Perang Korea Kembali Muncul

Situasi tenang di semenanjung Korea kini kembali terusik. Ada perselisihan yang lumayan serius antar Korea Utara dan Korea Selatan.

Ketegangan antar kedua Korea mulai terasa dalam beberapa hari belakangan setelah pernyataan Korut mengancam untuk memutuskan hubungan dengan Korsel. Pyongyang menganggap Korsel tidak melakukan upaya apa pun untuk menangani para aktivis dan pembelot dari Korut.

Aktivis dan pembelot yang tinggal di Korsel ini seringkali mengirimi selebaran propaganda antirezim Kim Jong Un. Langkah itu dianggap Pyongyang membahayakan negaranya.

Beberapa kelompok yang dipimpin oleh pembelot Korut memang disinyalir secara teratur mengirim selebaran, bersama dengan makanan, uang kertas, radio mini dan stik USB yang berisi drama dan berita di Korsel. Penyaluran itu biasanya menggunakan balon udara atau dalam botol melalui sungai untuk melintasi perbatasan.

Akibat itu, pejabat senior partai tunggal Korut, Kim Yo Jong, mengancam memutuskan hubungan dengan Korsel. Bahkan, perempuan yang merupakan adik pemimpin tertinggi Korut itu menegaskan akan melakukan tindakan balasan yang pantas untuk Korsel pada tentara mereka.

Peringatan itu rupanya bukan sekedar isapan jempol. Korut meledakkan kantor penghubung antar Korea di wilayah perbatasan. Kantor yang secara teknis berfungsi sebagai kantor kedutaan dua negara ini diledakkan sore hari Selasa (16/6).

“Tak lama, sebuah adegan tragis dari kantor penghubung bersama Utara-Selatan yang tidak berguna yang benar-benar runtuh akan terlihat,” ungkap Kim Yo Jong saat menekankan kampanye militer ini.

Militer keduanya kini telah siaga di sepanjang zona demiliterisasi (DMZ) yang setiap saat bisa menjadi medan perang. Apalagi sejak Korut juga mengancam akan memasuki DMZ.

militer korea

Korsel sejauh ini tidak berencana untuk melakukan tindakan balasan. Pejabat Seoul telah mengajukan proposal untuk perdamaian yang sejauh ini ditolak oleh Pyongyang.

Baca juga:  WHO Desak Indonesia Hentikan Penggunaan Klorokuin bagi Pasien Covid-19

Penolakan ini membawa kemunduran besar pada upaya presiden Korsel, Moon Jae-in, untuk menjalin rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korut. Upaya untuk membujuk Korut untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya, sebagai tahap lanjut rekonsiliasi, juga semakin berat.

Secara teknis kedua Korea ini sebenarnya masih berseteru dalam perang. Sejak perang berkecamuk pada 1950, kesepakatan terjauh yang bisa diambil adalah gencatan senjata tanpa fakta perdamaian.

Selama beberapa dekade ketegangan ini kerap memicu ancaman dimulainya kembali perang. **RS

Foto: Flickr.

Bagikan