Press "Enter" to skip to content

Achmad Yurianto yang Belum Pernah Absen Bahas Covid-19

Sudah lebih 100 hari Achmad Yurianto tak pernah absen dari layar kaca. Ia bukan artis tentu saja, apa yang disampaikannya pun selalu bernada serius dan cukup menegangkan.

Dokter dari lingkungan dinas militer Angkatan Darat ini telah ditunjuk sebagai juru bicara pemerintah pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sejak 9 Maret 2020. Buat pria kelahiran Malang 11 Maret 1962 ini, tugas tersebut bisa jadi kado ulang tahun yang memberatkan, namun mesti dilakoni dengan tanggung jawab.

Yuri saat ini berpangkat kolonel. Menjadi dokter di dinas militer atau korps CKM, nampaknya terpikir olehnya saat mulai aktif di resimen mahasiswa ketika berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Profesi itu lantas dituju dengan penuh keteguhan. Ia langsung menempuh pendidikan dasar kecabangan untuk dokter militer selepas lulus dari Unair. Kemudian sempat berdinas di Semarang, Bali, Dili dan Cimahi.

Yuri baru bergabung di Kementerian Kesehatan sejak 2015. Disini ia mulai menjabat sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes.

loading…



Ia lantas menjadi sekretaris dan kemudian Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes.

Posisi ini yang membawanya pada panggilan lain. Sebagai Ditjen P2P ia memimpin pengaturan observasi warga Indonesia yang pulang dari Wuhan.

Disitulah ia mulai berurusan dengan kasus pandemi Covid-19, sehingga diangkat menjadi juru bicara pemerintah terkait permasalahan virus Corona jenis baru ini.

Tugas ini terbilang melelahkan. Belum lagi sangat rentan kesalahan dan rawan dipolitisasi. Yuri sendiri sempat menyayangkan sejumlah ucapannya dipelintir menjadi isu kontroversial, seperti kasus frasa “yang kaya melindungi yang miskin.” pada 27 Maret lalu.

Terkait kasus itu ia mengaku sama sekali tidak bermaksud merendahkan masyarakat miskin. Lewat pesan itu ia menekankan agar warga yang lebih mampu tidak memberikan pekerjaan yang berat bagi para asisten atau karyawannya selama masa PSBB.

Baca juga:  Our Lovely President: B.J. Habibie

“Misalnya, di rumah punya asisten rumah tangga, ART itu tiap hari mondar-mandir dari rumahnya ke rumah majikan, dia naik angkot kan resikonya tinggi toh untuk tertular. Kalau dia nanti sakit terus di rumah majikan sakit semua kan jadi repot,” jelasnya saat dikonfirmasi di keesokan harinya.

Namun tentu saja memang kejadian seperti itu adalah risiko yang harus ditanggung juru bicara. Pria yang gemar memelihara kucing ini merasa amanat yang diembannya tidak perlu terhalang hanya karena kritikan.

Profesionalitas dan ketenangan Yuri selama menjadi juru bicara layak diapresiasi. Mei lalu ia menerima penghargaaan sebagai Public Relation of The Year dalam Indonesia Corporate Branding PR Award 2020.

Pria 58 tahun ini dianggap baik dalam menjalankan fungsi public relation sebagai pilar sosial, terutama dalam situasi pandemi seperti sekarang.

Sebenarnya tugas penyampaiannya di depan media kini sudah mulai berbagi dengan dr. Reisa Broto Asmoro yang ditunjuk sebagai anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas. Meski demikian, Yuri tetap mengemban penjelasan terkait apa yang jadi tanggung jawab pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Tiap hari mesti melayani pertanyaan wartawan, Yuri mengaku terus menjaga stamina dengan mengutamakan istirahat yang cukup.

Ia sering memanfaatkan waktu perjalanan dari rumahnya di Bogor ke kantor BNPB di bilangan Kuningan, Jakarta untuk beristirahat.

Stamina dan konsistensi ini patut diacungi jempol. Meski rutinitas hariannya cukup berat, Yuri belum pernah absen menunaikannya. **RS

Ilustrasi: gugus tugas

loading…