obat corona

Penggunaan dua obat malaria, klorokuin dan hidoksilorokuin, bagi pasien Covid-19 dinilai berbahaya oleh organisasi kesehatan dunia WHO.

Dalam liputan Reuters (26/5) diberitakan WHO bahkan telah memberi peringatan khusus terkait penggunaan obat ini pada pihak terkait di Indonesia.

dr. Erlina Burhan, salah satu penyusun draft panduan perawatan pasien Covid-19 di Indonesia membenarkan bahwa Pehimpunan Dokter Paru Indonesia juga telah menerima pemberitahuan yang sama.

“Kami sudah mendiskusikan masalah ini, meski masih ada perdebatan. Kami belum sampai pada kesimpulan,” ungkap dr. Erlina.

Klorokuin sempat menjadi rekomendasi sejumlah periset bagi pengobatan Covid-19. Di Wuhan, Tiongkok, penggunaannya pernah diujikan pada sekitar 100 pasien di 10 rumah sakit.

Hasil, penelitian itu, meski dengan data terbatas, menunjukkan bahwa klorokuin efektif untuk menghambat terjadinya komplikasi pneumonia pada pasien.

Meski selama ini senyawa klorokuin dan hidroksiklorokuin lebih banyak digunakan untuk pengobatan malaria, kemampuannya untuk mencegah perkembangan virus diyakini efektif pula untuk sejumlah keluarga virus, termasuk beberapa genus virus corona.

Secara teori, klorokuin memang punya kemampuan menghambat replikasi virus. Obat ini juga berinteraksi dengan reseptor ACE-2, pintu masuk paling utama virus SARS-Cov-2 ke dalam sel.

Hal ini yang membuat beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia sempat memasukkan klorokuin sebagai daftar obat tambahan yang dipakai menangani Covid-19.

Meski demikian, para pakar lain meragukan efektivitasnya. Khasiat obat ini dalam menghambat replikasi virus pada manusia dianggap perlu dosis yang cukup besar. Ini justru berisiko untuk mengganggu ritme jantung dan semakin memperbesar risiko kematian.

Penelitian terbaru yang dimuat Jurnal Medis The Lancet, memuat risiko penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin pada pasien Covid-19.

Selain tidak memberi hasil signifikan untuk pengobatan, kedua jenis obat tersebut tercatat menurunkan kemampuan survival pasien serta mengganggu ritme jantung dengan cukup signifikan.

Baca juga:  Kontrol Penuh Vietnam Sukses Kalahkan Covid-19

Penelitian inilah yang kemudian menjadi rujukan utama WHO untuk mengumumkan desakan agar penggunaan klorokuin dan hidorksiklorokuin bagi pasien Covid-19 ditunda.

Meski segala bentuk kemungkinan untuk pengobatan Covid-19 layak untuk dipertimbangkan, sepanjang belum ditemukan obat atau vaksin yang tepat, namun tentu tidak pada tempatnya jika risiko diabaikan.

Pasalnya, gangguan pada ritme jantung akibat penggunaan obat ini, dinilai jauh lebih berisiko dan sulit untuk dipulihkan. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.