Press "Enter" to skip to content

Tortor dan Gondang: Denyut Nadi Batak

Suara yang keras, nada tegas, mungkin sudah jadi stereotipe yang dilekatkan dengan Suku Batak.

Namun, bukan berarti orang Batak tidak punya sisi kelembutan dan keindahan seni. Tarian Batak, tortor dan perangkat musik gondang adalah dua contohnya.

Dahulu gondang dan tortor diselenggarakan untuk berbagai ritual. Keduanya juga mengisi banyak hal yang sifatnya lebih keseharian.

Sebelum bangsa Eropa masuk Tapanuli, suku Batak umumnya menganut agama tradisional. Meski demikian, bangsa Batak cukup terbuka terhadap pengaruh luar.

Pada masa itu, pengaruh Hindustan dan Tiongkok cukup kental. Adanya ogung, semacam gong dalam musik Batak, adalah contohnya. Ogung termasuk produk peradaban logam, kontras dengan era awal peradaban Batak yang megalitikum.

Dalam narasi keluarga Batak yang masih menyimpan benda-benda pusaka (termasuk ogung tadi), benda itu dikisahkan berasal dari moyang mereka yang melakukan barter dengan pedagangpedagang India dan Tiongkok. Komoditas seperti kemenyan, garam dan tanaman obat, biasanya dipertukarkan dengan alat-alat logam.

Pertukaran itu intens, bukan sekedar satu-dua. Sebab ogung adalah salah satu elemen vital dan selalu dipakai dalam gondang dan tortor Batak. Demikian pula sejumlah perangkat logam lain.

Menurut keyakinan tradisional, ketika gondang dimainkan, maka suara-suara gendang, seruling, serta ogung akan terdengar sampai ke langit.

Tak jarang para penari tortor akan berhentak, menggerakkan tubuh seperti sedang trance. Biasanya pendengar, pemusik, dan penari mengakui ada kekuatan yang hadir dalam gondang.

Kekuatan itulah yang membuat orang gembira, bersedih, atau merasa bersatu dalam semangat kekeluargaan.

Repertoar gondang sendiri terbagi atas beberapa kategori, seperti gondang mula-mula (awalan), somba-somba (sesembahan), atau elek-elek (panggilan atau permohonan).

Tortor yang diiring gondang ini pun biasanya dilakukan dengan khidmat.

Baca juga:  Tetap Positif di tengah Pandemi Covid-19

Namun tak selamanya gondang dan tortor dimaknai sesakral itu. Ia juga hadir dalam hal yang lebih santai dan keseharian.

Contohnya di tradisi Toba ada yang dinamakan gondang naposo. Ini hampir mirip dengan guroguro dalam masyarakat Karo, atau rondang bintang di Simalungun.

Gondang ini dimaksudkan bagi tortor kaum muda. Saat menari, pemuda-pemudi diharapkan bisa berkenalan dan akhirnya mencari pasangan masing-masing.

Boleh dikata, musik memang jadi denyut nadi yang mengisi tiap sisi kehidupan masyarakat tradisional Batak. Ia adalah ekspresi keterbukaan, spiritualitas dan kebersamaan sehari-hari.

Tak heran di zaman modern, meski telah mengalami pergeseran, nuansa itu masih sangat terasa. **BD

Bagikan