Press "Enter" to skip to content

Tidak Ada Kebangkitan Nasional di 2020

“Indonesia terserah, suka-suka kalian saja…”

Ungkapan kekesalan tenaga medis itu menjadi viral belakangan menggugat nanggungnya upaya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Wajar, mengingat mereka yang menghadapi pandemi di garda ujung itu, sangat berkorban waktu dan tenaga.

Namun di sisi lain, banyak yang meyayangkan sikap itu. Menganggap tak sepantasnya tenaga medis ngambek atas apa yang sudah merupakan panggilan profesi mereka.

Bahkan ada yang berseru agar pekerja medis jangan melupakan teladan para dokter pendiri Boedi Oetomo. Yang 112 tahun lalu melampaui kepentingan pribadi, merintis gerakan kebangkitan nasional.

Silang kata seperti itu mungkin potongan dari ruwetnya masalah hak dan tanggung jawab bernegara di kita di tengah pandemi seperti sekarang.

Hampir semua orang berharap pihak lain melakukan tanggung jawab dan peran dengan sempurna. Pokoknya selalu akan ada yang kurang dari pemerintah, oposisi, petugas medis, relawan, influencer atau anggota masyarakat yang bukan kita, siapa saja yang bisa jadi tujuan kekesalan lain.

Ya itu tadi, maunya orang lain total mengerjakan perannya. Tapi kita kalau bisa kita ya jangan sampai rugi.

Tidak semua, tentu saja. Namun jumlah yang mengerjakan peran dengan tanggung jawab belum cukup untuk mengerek kita bangkit di tengah pandemi.

Walhasil kita cuma bisa mengumpat. Angka kasus positif dan yang meninggal terus naik, sementara di ujung lain ekonomi terpuruk.

Lantas, apa kita masih punya harapan untuk bangkit secara nasional di tahun ini?

Mitos Kebangunan Nasional 1948
Dalam beberapa hal, kondisi ini mungkin punya kemiripan dengan situasi Indonesia sehabis Agresi Militer Belanda 1947.

Kondisi nasional morat-marit. Faksi-faksi politik memecah. Kelompok kiri, kelompok nasionalis dan kelompok Islam bertengkar soal arah perjuangan selepas Perjanjian Renville.

Baca juga:  Politik Uang Kemungkinan Meningkat Selama Pandemi

Ekonomi juga hancur. Jawa Tengah yang padat penduduk kekurangan pangan karena blokade. Inflasi parah. Negara-negara federal di wilayah lain mulai muncul.

Di tengah kalutnya situasi, Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Sukarno-Hatta serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo agar membangun kesadaran untuk kesatuan lewat satu momen tertentu.

Usul itu menganggap peristiwa berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, perlu dirayakan di tahun 1948 sebagai hari Kebangunan Nasional yang ke-40.

Kita bisa maklum mengapa Boedi Oetomo (BO) yang dipilih sebagai teladan organisasi kebangkitan nasional.

Organisasi itu sudah bubar sejak 1935 dan tidak ada penerusnya di dunia politik selepas Indonesia merdeka. Jadi tidak bisa diklaim dari kelompok manapun.

BO juga mewakili sikap yang moderat, nasionalis dan mengambil jalan tengah. Sesuatu yang amat dibutuhkan untuk mempersatukan semua elemen saat itu.

Walhasil momen itupun menjadi semacam islah. Mr. Asaat, ketua KNIP, mengadakan pertemuan dengan berbagai golongan dan partai. Kepanitiaan perayaan pun diisi perwakilan banyak kelompok, bukan pejabat pemerintah.

Perayaan itu berhasil diselenggarakan dan menghasilkan Dokumen Kesatuan Nasional, yang ditandatangani semua partai politik serta banyak kelompok masyarakat.

Dokumen tersebut menetapkan hari 20 Mei 1908 sebagai saat permulaan menggalang kesatuan sikap program dan tindakan. Inilah yang menjadi latar belakang hari Kebangkitan Nasional kini dirayakan setiap 20 Mei.

Momen itu pun menjadi unik. Sehingga bukan lagi soal apakah benar BO jadi pelopor kebangkitan, namun lebih pada harapan semua pihak agar bangsa Indonesia bangkit.

Sejarawan Taufik Abdullah menyebut bahwa perayaan ini adalah contoh kasus ketika mitos dibangun dengan kreatif ditanamkan dalam kesadaran bangsa.

Mitos Kebangkitan di 2020? Apakah kita bisa mereplikasi cara serupa agar kita bisa mengalami euforia kebangkitan di tahun ini? Terutama agar kita bangkit dari pandemi?

Baca juga:  Alkes Buatan Indonesia Saat Pandemi Covid-19

Kalaupun ada, itu tentu tidak muncul lewat momen upacara, apalagi sekedar konser kebangsaan ala BPIP kemarin, yang sempat diprotes karena mengabaikan pembatasan fisik. Bukan pula lewat jargon-jargon kosong jelang pilkada. Atau tulisan dan makalah kebangkitan nasional

Mitos pemersatu itu harus sedemikian rupa menjadi sesuatu yang mengumpulkan kepentingan kita bersama dan menumbuhkan harapan bangkit.

Kalau tidak ada, mari berpuas diri dengan rasionalitas. Bahwa kita boleh berharap, meski tak salah juga pesimis: “Tidak ada semangat kebangkitan nasional di tahun ini.”

Kita harus tetap bekerja dan berusaha, menyelamatkan diri serta membantu sesama jika memungkinkan.

Di orang-orang yang tetap mengerjakan peran ini, kita barangkali bisa membersit sedikit – dan hanya sedikit – harapan bahwa akan ada orang-orang yang menjadi pahlawan kebangkitan nasional.

Hidup toh tetap harus berjalan. Tinggal jalani semaksimal yang kita mampu. **RS

Foto: Instagram/Hanyaive

Bagikan