Soeharto Berhenti bukan Mundur

soeharto berhenti

“I QUIT”

Begitu The Jakarta Post menampil headline beritanya 22 tahun silam, saat Soeharto memutuskan menyerahkan jabatan presiden Republik Indonesia.

Berbeda dengan media lain, yang umumnya menulis istilah ‘resign’ atau “mengundurkan diri.Jakarta Post, meski turut pula memakai diksi itu, namun sebagai judul mereka dengan tepat menukil apa yang dikatakan Soeharto dalam pidato terakhirnya sebagai presiden.

Kita tentu ingat video ikonik di 21 Mei 1998. Pak Harto berkemeja safari dan peci hitam memegang kertas tulisan tangan.

Saya memutuskan,” ungkap Pak Harto diselingi dehem batuk, “Untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden republik Indonesia, terhintung sejak saya bacakan pernyataan ini.

Betul, Soeharto tidak pernah berkata mundur.

Dalam testimoni putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana, Soeharto memang tidak mau memakai frasa “mengundurkan diri” yang mengesankan ia lari dari tanggung jawab.

Ia memilih kata ‘berhenti’ dengan keyakinan bahwa pihak yang memberinya jabatan sudah tidak memercayainya lagi.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Tutut itu, Soeharto bahkan sampai harus memastikan berkali-kali bahwa di Undang-Undang Dasar 1945 memang ada kata ‘berhenti’, terkait jabatan presiden.

Lepas dari narasi Mbak Tutut, kita memang bisa meraba kengototan Soeharto terkait jabatan presiden ini.

loading…


Semasa pemerintahan Orde Baru, Soeharto dikenal sangat awas akan ancaman sekecil apa pun terhadap jabatannya.

Fusi partai, normalisasi kehidupan kampus, domestikasi gerakan perempuan, pengontrolan media massa serta persetujuan untuk pimpinan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan adalah bentuk-bentuk kontrol Soeharto akan setiap gerak apa pun untuk melawannya.

Soeharto telah mendapuk diri sebagai sosok yang identik dengan pemerintah, bahkan negara. Dengan dalih melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Ia menangkal semua kritik padanya selama 32 tahun.

Baca juga:  Arief Budiman bukan Sekedar Kakaknya Soe Hok Gie

Kita bisa mendaftar mulai berbagai upaya ‘membersihkan’ PKI sampai ke akar-akarnya, operasi militer di Aceh, Papua dan Timor-Timur, tindakan represif saat Malari, peristiwa Tanjung Priok, pembredelan pers, penangkapan seniman dan aktivis, insiden 27 Juli serta banyak kejadian lain yang membuktikan ngototnya tangan besi Soeharto memegang kendali pemerintahan.

Maka dalam kaca mata ini kita bisa memahami bahwa Soeharto memang memilih kata berhenti, bukan mundur. Ia tidak – bahkan akhirnya tidak pernah – mengaku bersalah selama memerintah negara ini.

Ini berbeda dengan yang dialami oleh Presiden Soekarno, B. J. Habibie atau Gus Dur, yang sama-sama kalah oleh parlemen, sebagai representasi rakyat.

Bung Karno dan Habibie sama-sama harus menyampaikan pidato pertanggungjawaban yang kemudian ditolak oleh MPR.

Saat sidang MPRS 1967 Soekarno diberhentikan sebagai presiden. Sementara di Sidang MPR 1999 Habibie memilih tidak mencalonkan diri kembali sebagai presiden selepas pertanggungjawabannya ditolak.

Gus Dur lebih unik lagi, ia dikalahkan dengan tuduhan kasus hukum yang justru sampai sekarang tidak pernah terbukti.

Ketiga pemimpin tadi ‘kalah.’ Namun, Soeharto tetap merasa dirinyalah yang menang dan tidak mundur. Ia yang mau berhenti.

Kita tentu perlu mengingat ini baik-baik. Termasuk saat menghadapi sekian banyak narasi yang mengagungkan kembali Orde Baru dan Soeharto.

Barangkali sejatinya Orde Baru tidak pernah benar-benar habis dan mundur. Ia hanya berhenti. Tepat disitu kita tidak mau.

Terlepas indah kenangannya, kita tentu tak ingin represi kebebasan, praktik korupsi serta ketaksetaraan sekedar berhenti lalu datang lagi. **RS

Ilustrasi: kutukaan

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.