Press "Enter" to skip to content

Seratus Tahun Hassan Shadily di Kebangkitan Nasional

Sebelum era digital, pelajar dan mahasiswa Indonesia pasti sangat akrab dengan kamus yang ditandai tiga setrip berwarna terang ini.

Benar, kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia itu adalah proyek Cornell University yang digawangi John M. Echols dan Hassan Shadily.

Itu bermula di tahun 1952, ketika Hassan mengikuti program beasiswa Fulbright. Waktu itu ia bersama Rustandi Kartakusuma menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan beasiswa ini.

Hassan mengambil pendidikan master sosiologi di Cornell University selama tiga tahun. Disanalah ia berkenalan dengan Prof. John M. Echols, yang mengajaknya terlibat dalam proyek penyusunan kamus Indonesia-Inggris yang merupakan proyek kampus.

Edisi pertama kamus ini ternyata sangat diapreasiasi pengguna berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris. Cornell University Press menerbitkan An Indonesian-English Dictionary pada 1961, lantas pada tahun 1975 menerbitkan pasangannya An English-Indonesian Dictionary.

Di Indonesia kedua kamus tersebut diterbitkan oleh Gramedia mulai tahun 1976.Peran Hassan semakin besar untuk kamus tersebut, selepas wafatnya Prof. Echols.

Di revisi ketiga yang dimulai pada akhir tahun 1983, ia bersama tim bahasa Cornell University merombak ulang dan menyesuaikan lebih dari separuh bagian kamus. Bentuk itulah yang kita kenal sampai saat ini.

Setidaknya sampai era 2000-an kamus ini paling banyak dijadikan rujukan orang Indonesia yang belajar bahasa Inggris, maupun orang yang ingin belajar bahasa Indonesia. Bahkan sampai saat ini kamus tersebut masih terus dicetak ulang.

Hassan mungkin tak pernah membayangkan kalau ia akan menjadi leksikografer kenamaan. Pria kelahiran 20 Mei 1920 ini justru ingin sekali menjadi dokter.

Meski cita-cita itu tidak kesampaian, Hassan amat menyukai dunia sekolah. Hampir keseluruhan usianya dihabiskan untuk belajar di beberapa tempat.

Baca juga:  Sisingamangaraja XII: 29 Tahun Melawan Belanda

Usia sembilan tahun, Hassan mulai menempuh studi di sekolah dasar bumiputera (HIS) di kampong halamannya Pamekasan, Madura. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah (MULO) di Malang dan sekolah kepegawaian (MOSVIA) di Yogyakarta.

Putra Madura ini juga sempat memperoleh kesempatan belajar di Jepang. Ia belajar di Tokyo International School, dilanjutkan Military Academy Tokyo Japan sampai tahun 1945.

Di masa revolusi kemerdekaan Hassan sempat bekerja menjadi wartawan. Itulah momen yang mendorongnya untuk mencari kesempatan agar orang-orang Indonesia belajar ke luar negeri demi bisa menimba banyak ilmu untuk membangun bangsa.

Hassan sadar betul, penguasaan bahasa asing serta keluasan wawasan menjadi modal penting untuk beroleh kesempatan itu. Itulah yang membuatnya begitu bersemangat menerima ajakan Prof. Echols, meski ia sebenarnya mengambil jurusan sosiologi, bukan kajian bahasa.

Bahkan, selepas penerbitan edisi pertama kamusnya, Hassan juga terlibat dalam penyusunan tiga ensiklopedia. Kita mengenal Ensiklopedia Umum, Ensiklopedia Indonesia serta Ensiklopedi Tari dan Musik sebagai karya Hassan yang penuh dedikasi.

Hassan Shadily

Menyusun ensiklopedia memang bukan hal main-main. Apalagi di masa dimana hampir semua pengumpulan dan penyortiran informasi dilakukan secara manual.

Tak jarang bertahun-tahun keseharian Hassan hanya dihabiskan dengan membaca dan memilah data selama hampir dua belas jam sehari.

Tidak ada yang lebih memotivasi Hassan selain kecintaannya untuk belajar, juga harapan agar wawasan masyarakat Indonesia semakin diperluas serta dunia internasional lebih tahu soal Indonesia.

Jika itu terjadi, menurutnya, anak-anak bangsa akan lebih mudah menimba ilmu pengetahuan dan memperbaiki masa depan.

Di masa ia hidup, semua royalti dan honorarium kamus maupun ensiklopedia itu sebenarnya sangat kecil. Hassan menghidupi keluarga dengan usaha sampingannya yaitu percetakan dan penerbitan buku. Ia juga sesekali menerima pekerjaan borongan proyek bangunan.

Baca juga:  Mengenang Ahmad Djuhara Pelopor UU Arsitek

Sampai akhir hayatnya pada 10 September 2000, Hassan adalah contoh tak terbantah, bagaimana manusia Indonesia begitu mencintai pengetahuan.

Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI pada tahun 2014, lebih dari pantas untuk ia sandang. Rasanya, bukan kebetulan kalau hari kelahirannya bertepatan dengan momen Kebangkitan Nasional.

Di tahun keseratus kelahiran Hassan, kita tetap berharap ada banyak contoh lain yang begitu mencintai ilmu pengetahuan demi kemajuan negeri. **RS

Foto: Tribunnews

Bagikan