Press "Enter" to skip to content

Seberapa Sahih Klaim Makanan Pembangkit Libido?

Hampir semua budaya mengenal jenis makanan atau zat yang dipercaya bisa meningkatkan gairah seksual. Umumnya memang lebih berfokus pada peningkatan libido pada pria.

Secara umum makanan atau zat tersebut lazim dinamakan sebagai afrodisiak. Istilah ini berasal dari mitologi Yunani terkait Aphrodite, sang dewi cinta.

Jenis-jenis makanan yang dikonsumsi sebagai pembangkit libido amat beragam di tiap tradisi. Namun, biasanya tergolong ke dalam lima kelompok.

Kelompok pertama adalah makanan yang dipercaya ‘menghangatkan badan’. Ini biasanya terkait makanan herbal seperti ginseng, jahe merah atau sejumlah rempah lain. Atau daging yang dianggap berenergi hangat.

Beberapa makanan lain diyakini punya khasiat afrodisiak, karena memiliki bentuk yang mirip dengan organ seksual. Misalnya tiram dan kerang-kerangan, sejumlah buah seperti pisang, atau sejumlah umbi dan akar-akaran.

Sementara itu, ada pula yang dikonsumsi sebagai pembangkit gairah karena terkait reproduksi. Telur ayam, telur ikan, organ seksual kambing, misalnya dinilai punya zat yang meningkatkan kesuburan.

Makanan-makanan eksotis yang langka semisal kodok Bufo di tradisi Indian, atau makanan yang punya aroma khas tertentu seperti coklat dan ekstrak ambergris, juga sering dikaitkan dengan kemampuan meningkatkan gairah.

Meski demikian, sejauh ini tidak ada klaim ilmiah yang membuktikan makanan sebagai afrodisiak. Sejumlah makanan di atas memang ada yang punya khasiat meningkatkan stamina atau kesuburuan. Namun, tidak secara langsung memberikan perasaan bergairah secara seksual.

Efek placebo, karena meyakini khasiatlah, yang menjadikan makanan tadi dinilai manjur. Ini sangat mungkin, karena seksualitas banyak terkait aspek psikologis.

Efek afrodisiak, dalam pengertian mempengaruhi kesadaran akan gairah, sebenarnya mungkin didapat dari zat seperti alkohol atau sejumlah obat-obatan sintetis seperti turunan fenetilamin (seperti amfetamin dan ekstasi), alkil nitrit (poppers) atau suntikan hormon testosteron.

Tentu saja zat-zat seperti ini punya efek buruk. Selain dapat merusak kinerja organ tubuh, juga berdampak ketergantungan yang parah. Tingkat kesuburan pun cenderung menurun karenanya.

Menjaga kebugaran tubuh dan memperhatikan kesehatan mental, nampaknya merupakan saran yang jauh lebih berguna daripada sibuk mencari zat peningkat gairah. **RS

Foto: Unsplash