Sempat terpuruk saat Indonesia diumumkan terkena pandemi Covid-19, rupiah kini semakin menguat. Kamis lalu (30/4) rupiah ada di level Rp 14.882 per dolar AS.

Angka ini merupakan penguatan yang cukup signifikan. Apalagi jelang akhir Maret lalu, rupiah sempat ada di level terburuk Rp. 16.575 per dolar AS.

Penguatan sampai lebih dari 10% ini termasuk salah satu yang terbaik jika dibandingkan mata uang negara Asia lainnya. Bahkan, dalam beberapa kali penutupan pekan perdagangan di pertengahan April, rupiah menjadi mata uang yang performanya terbaik di dunia.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai paket stimulus yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia turut menjadi katalis positif, selain faktor utama menguatnya sentimen pelaku pasar.

Pasar keuangan nampaknya meyakini penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia mulai melambat. Ini memunculkan harapan segera berakhirnya masa karantina dan perekonomian kembali normal.

“Semua hal ini baik untuk iklim investasi ke depan. Sehingga tak mengherankan rupiah berada dalam tren positif belakangan ini,” ujar Sutopo sebagaimana dikutip Kontan.co.id Minggu (3/5).

Meski demikian, pemerintah diharapkan tidak lengah dalam upaya menanggulangi Covid-19. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara, tidak menutup kemungkinan ada gelombang kedua pandemi.

Singapura, Tiongkok dan Korea Selatan melaporkan ada beberapa lonjakan kasus baru, meski masih dalam jumlah yang kecil. Ini umumnya disebabkan penyebaran dari luar negeri, saat mereka mulai melonggarkan pembatasan.

Selain kemungkinan adanya gelombang pandemi berikutnya, perlu pula diperhatikan struktur ekonomi yang mempengaruhi dinamika pergerakan rupiah. Sejauh ini struktur itu belum begitu stabil.

Pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh keluar masuknya aliran modal (hot money) sebagai sumber devisa. Pos devisa lain yakni transaksi berjalan, belum bisa diandalkan.

Baca juga:  Lebih 130.000 Kasus Hoax Selama Pandemi Covid-19

Sejak tahun 2011 transaksi berjalan RI sudah mengalami defisit, dimana nilai impor lebih tinggi dari ekspor. Praktis pasokan valas hanya dari hot money, yang mudah masuk-keluar. Ketika terjadi capital outflow yang besar maka tekanan bagi rupiah akan berat.

Kita tentu bersyukur dan berharap rupiah menguat dan stabil. Namun tidak perlu keburu jumawa saat ini. **RS

Foto: Id.rbth

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.