Riset klinis terbaru Amerika Serikat mengklaim cara efektif mengobati Covid-19. Pengobatannya menggunakan remdesivir, antiviral yang pernah diusulkan untuk menangani infeksi Ebola.

Penelitian ini dimulai sejak akhir Februari. Melibatkan 1.063 pasien Covid-19 di Amerika dan 21 negara lain. Emory University Atlanta merupakan responden terbesar dengan 103 pasien.

Data awal menunjukkan pemberian remdesivir pada pasien dengan tingkat sakit menengah hingga agak parah, memberi efek pemulihan lebih cepat ketimbang pengobatan selama ini. Pasien umumnya pulih setelah 11 hari. Empat hari lebih cepat dari pada rata-rata waktu pemulihan pasien lain.

“Nampaknya, ada secercah harapan, bahwa kita bisa berbuat sesuatu untuk penyakit ini,” demikian ungkap Dr. Aneesh Mehta, pakar penyakit menular dari Emory University, saat diwawancara ABC News (29/4).

Ini merupakan studi yang komprehensif untuk penggunaan remdesivir. Sebelumnya, riset pengobatan di Tiongkok, Jepang dan Eropa juga telah menggunakannya dalam skala kecil.

Meski demikian, persoalan seberapa besar efektivitas obat ini masih menjadi pertanyaan. Percobaan pada pasien dengan kondisi sangat parah menunjukkan hasil kurang memuaskan.

Pemberian remdesivir pada pasien yang parah, menunjukkan angka kematian sebesar 8%. Angka ini memang lebih rendah jika dibandingkan pengobatan biasa sebesar 11%. Namun, perbedaan ini belum signifikan secara statistik.

Sementara itu, riset medis di Wuhan, Tiongkok juga mempertanyakan efektivitas remdesivir. Riset yang dimuat di jurnal The Lancet tersebut menyebut pengaruhnya tidak signifikan pada pasien dengan kondisi menengah hingga parah.

Namun, data penelitian Wuhan ini memang terbilang sedikit karena keberhasilan kebijakan lockdwon di kota tersebut.

Nampaknya, remdesivir akan lebih efektif jika diberikan pada fase awal infeksi. Terbukti proses pemulihan yang lebih cepat terjadi pada pasien dengan kondisi sakit yang menengah.

Baca juga:  Ancaman Perang Korea Kembali Muncul

Prof. Babak Javid, konsultan penyakit menular di Cambridge University Hospitals meyakini meski belum sempurna, obat ini dapat disetujui sebagai salah satu alternatif dalam pengobatan Covid-19.

“Riset menunjukkan bahwa remdesivir bukan peluru ajaib. Manfaat keseluruhan untuk bertahan hidup ada sekitar 30%. Tapi itu sudah cukup baik, apalagi kita belum menemukan pengobatan yang paling efektif. Demikian pula vaksin pencegahan belum ada,” papar Javid sebagaimana dikutip BBC News. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.