Press "Enter" to skip to content

Punk: Dulu, Kini dan Nanti

Punk bisa punya banyak penafsiran. Sebagai aliran musik ia identik dengan ketukan snare drum rapat serta distorsi menggila.

Tambahan lagi, bagi kebanyakan orang, ciri yang tak mungkin bisa dilepaskan adalah tampilan yang menyertai “anak punk”.

Ada rambut mohawk, potongan ala feathercut warna terang, boots, rantai, spike (aksesoris berjeruji), patches (tambalan), jaket kulit, jeans ketat dengan warna luntur, serta baju agak lusuh.

Dua pemaknaan ini sebenarnya baru menyentuh defenisi pertama dari makna punk.

Dalam Philosophy of Punk, pengamat musik Inggris, Craig O’Hara, menyebut tiga definisi. Pertama, punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Sebagaimana disebutkan di atas.

Kedua, punk sebagai semangat sang pemula yang punya keberanian memberontak, memperjuangkan kebebasan dan melakukan perubahan.

Terakhir, sebagai bentuk perlawanan yang hebat, karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.

Punk tumbuh subur pada pertengahan dekade 1970-an di Inggris. Ia hadir akibat ketidakpuasan kelas pekerja terhadap sistem negara yang membelenggu. Ada jurang hierarki yang besar antar masing-masing kelas.

Kaum punk, lewat band pelopor seperti Sex Pistols, menyindir para penguasa dengan caranya sendiri. Lewat musik dan lirik yang sederhana, namun terkadang kasar diiring beat cepat menghentak.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika, yang saat itu mengalami skandal ekonomi dan politik.

Tak lama, ini pun juga meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia ia kebanyakan tumbuh sebagai komunitas alternatif, namun punya basis lokal yang kuat.

Punk hadir sebagai bentuk solidaritas dan komunitas yang concern pada persoalan-persoalan sosial. Ia juga gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan keyakinan we can do it ourselves dan ajakan terkenal DIY (do it yourself).

Baca juga:  Rekomendasi untuk Para Pemula Ghibli

Sayangnya, media mungkin lebih banyak menyorot punk sebatas trend musik dan tampilan. Ini yang mengkerdilkan pemaknaan punk.

Di kalangan punk sendiri, jika seseorang hanya menjadi punk karena itu, mereka sering diejek sebagai ‘poser’.

Dari perjalanan punk generasi muda masa kini, sebenarnya bisa banyak belajar. Terutama dalam mengusung kemandirian.

Banyak ahli berpendapat bahwa kemandirian sebuah bangsa, harus dimulai dari rakyatnya sendiri. Maka yang jauh lebih penting adalah apakah generasi muda Indonesia sudah cermat dan menerapkan kemandirian?

Alih-alih hanya menyukai punk sebagai trend fashion yang miskin pesan moral, jauh lebih bermakna jika kita menyerap sikap kritis, keberanian mendobrak serta semangat kemandiriannya.

Semoga di masa depan roh punk inilah yang lebih terasa, daripada fashion poser-nya. **BD

Bagikan