Press "Enter" to skip to content

PSBB Setengah Hati dan Masa Depan Covid-19

Kajian data Kompas, Jumat (16/5), yang disusun Albertus Krisna menunjukkan temuan menarik terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakan yang telah diterapkan di 27 kabupaten/kota di Indonesia ini ternyata punya catatan buruk akan banyaknya pelanggaran.

Dalam catatan di Polantas Metro Jaya DKI Jakarta saja, tercatat lebih dari 27.000 pelanggaran sepanjang 10 April hingga 5 Mei 2020.

Pelanggaran itu ada dalam bentuk yang sebenarnya sangat mudah untuk ditaati. Sekitar 54% dari kasus pelanggaran itu adalah tidak menggunakan masker di ruang publik. Demikian pula kendaraan roda empat yang melebih setengah kapasitas (19,8%), pemotor/pesepeda yang tidak mengenakan sarung tangan (11,5%) dan berboncengan tetapi berbeda alamat KTP (9,3%).

Albertus memang tidak menyorot data dari daerah lain. Demikian pula soal hal-hal yang tidak terkait perkendaraan di jalan raya, seperti antrian di pusat perbelanjaan atau tempat publik lain.

Namun potongan data ini nampak sekali memberi gambaran bagaimana PSBB dikerjakan dengan setengah hati.

Membandingkan dengan yang dilakukan oleh negara-negara lain, riset ini kemudian membahas sejumlah faktor mengapa ada ketidakpatuhan terhadap kebijakan pencegahan penyakit ini.

Mengutip riset wabah sebelumnya seperti SARS, Ebola, Flu Burung dan Mupms, penelitan ini mengurai sembilan faktor yang menentukan kepatuhan warga pada kebijakan pembatasan seperti karantina atau PSBB.

Kesembilan faktor itu adalah karakteristik penduduk dan pekerjaan, pengetahuan warga tentang wabah, karakteristik sosial budaya, manfaat langsung yang dirasakan warga, risiko wabah penyakit yang dirasakan, alasan, praktis kebutuhan sehari-hari, kepercayaan pada sistem kesehatan, lamanya karantina dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Orang mungkin boleh beropini soal mana faktor yang lebih menentukan di Indonesia. Namun, sebagai gambaran dalam kasus Covid-19 kali ini, kita bisa melihat catatan pembatasan yang berhasil pada negara-negara lain.

Baca juga:  Jenazah Direbut Paksa di Manado, Contoh Ketaksiapan New-Normal

Tiongkok dan Vietnam mungkin mewakili negara yang punya kontrol penuh akan kebijakan publik. Disini para pemimpin bisa menerapkan nyaris apa saja tanpa kekhawatiran akan protes berlebihan. Tanpa khawatir soal popularitas dan perolehan suara saat pemilu.

Sementara Taiwan, juga mungkin Korea Selatan dan Jepang mewakili masyarakat demokratis dengan socialpressure tinggi karena punya kultur Timur yang komunal.

Selandia Baru dan sejumlah negara Skandinavia adalah contoh bagaimana pemimpin di masyarakat demokratis dan cenderung individualistik, namun mampu membangkitkan kepercayaan, sehingga beroleh dukungan sosial meski harus membatasi gerak masyarakat.

Kendali dan ketegasan pemerintah adalah kata kunci di kelompok pertama. Sementara di kelompok kedua kuncinya ada pada kesadaran dan kuatnya tekanan komunal.

Lantas kelompok ketiga bertumpu pada rasionalitas dan komunikasi kebijakan yang transparan dan ilmiah.

Ketiga-tiganya punya irisan sama, tindakan yang efektif dan cepat dari pemerintah serta kepatuhan dan disiplin dari warga.

Hal-hal di atas yang mungkin kita temukan dalam bentuk kurang atau ketiadaannya di Indonesia.

Secara jalur ideologis kita mungkin ingin merangkul konsep seperti di Selandia Baru atau negara demokratis lain yang plural.

Namun apa daya, kita belum memiliki masyarakat, struktur sosial dan mungkin kepemimpinan yang berkualitas setara.

Atau mungkin kita bisa membuat model sukses baru? Wallahualam.

Yang jelas kita masih tetap menghadapi pandemi atau mungkin harus hidup berdampingan dengannya. Dalam situasi itu, tentu saja kita tetap membutuhkan disiplin dan protokol sosial seperti yang dianjurkan di PSBB.

Kita mungkin harus tetap memakai masker, sarung tangan, mencuci tangan atau menambah prosedur lain, serta menjadikan itu sebagai normal baru.

Tapi apakah kita sebagai masyarakat bisa dengan disiplin menerapkannya? **RS

Baca juga:  Prediksi Covid-19 Berakhir Juni, LSI Denny JA Jelaskan Mengapa Meleset

Foto: Cnnindonesia.com

Bagikan