PSBB Belum Berhasil, Pekerja BUMN Di Bawah 45 Tahun Akan Masuk Kerja

Kementerian BUMN mengeluarkan surat edaran terkait menjalani kerja BUMN di tengah pandemi Covid-19.

Dalam surat bernomor S-336/MBU/05/2020 tertanggal 15 Mei 2020 itu, terlampir contoh tahapan skenario pemulihan kegiatan BUMN di masa wabah.

Tahap pertama akan dimulai pada Senin, 25 Mei 2020. Dimana para pekerja yang berada di wilayah yang telah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), boleh kembali bekerja di kantor. Hal ini dikhususkan bagi pekerja yang berusia di bawah 45 tahun.

Karyawan berusia di bawah 45 tahun akan mulai berkantor lagi, sementara untuk yang berusia di atasnya tetap bekerja dari rumah. Kebijakan itu disertai protokol kesehatan di tempat kerja, pemantauan kondisi pegawai, serta penanganan karyawan terdampak Covid-19.

Di tahap pertama ini, Kementerian BUMN juga mulai membuka sektor industri dan jasa. Pabrik, pengolahan, pembangkit, serta hotel mulai dibuka melalui sistem shifting dan pembatasan karyawan masuk.

Tahapan kedua, dimulai pada 2 Juni 2020. Di tahapan ini, sektor jasa dan ritel termasuk pusat perbelanjaan diperbolehkan beroperasi. Sementara tahapan ketiga direncanakan untuk diterapkan pada 8 Juni 2020, dengan pembukaan sektor jasa wisata dan pendidikan. Dilanjutkan dengan tahapan keempat pada 29 Juni 2020 yang membuka kegiatan ekonomi di semua sektor.

loading…


Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga memastikan penetapan tanggal pada setiap fase tersebut, menyesuaikan dengan kebijakan PSBB suatu wilayah.

“Misalnya PSBB memerintahkan karyawan tak boleh bekerja. Kami akan mematuhi bahwa karyawan di daerah tersebut tidak bekerja. Tetapi misalnya PSBB telah dibuka maka protokol ini berlaku dengan sendirinya,” kata Arya, sebagaimana dikutip CNN, Minggu (17/5).

Kebijakan kembali bekerja bagi karyawan berusia di bawah 45 tahun ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Covid-19 lebih banyak menyerang yang berusia lanjut.

Baca juga:  Selandia Baru Contoh Lain Sukses Hadapi Covid-19

Meski demikian, sejumlah pakar mengkritisi kebijakan ini justru akan memperparah pandemi Covid-19 di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Faisal Yunus, menilai kebijakan ini akan membuat jumlah kasus positif Covid-19 melonjak. “Kemungkinan terburuk akan banyak kematian. Yang selama ini tidak terkena Covid karena tidak bertemu orang di luar rumah, justru akan terkena virus yang dibawa anggota keluarganya,” tutur Faisal dikutip Okezone.

Anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu menilai pemerintah tidak punya pertimbangan medis yang jelas dalam melonggarkan pembatasan ini.

PSBB yang telah diterapkan selama beberapa pekan memang belum berhasil meredam laju pandemi Covid-19.

Selain karena dinilai terlambat penerapannya, pembatasan itu pun tidak dikerjakan sepenuhnya. Walhasil penyebaran wabah terus melaju.

Sampai hari ini, Senin (18/5), Indonesia telah mencatat 18.010 kasus positif Covid-19, dengan jumlah kematian sebanyak 1.191 orang. **RS

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.