Perlahan Bangkit dari Corona, Jepang Menang Tanpa PSBB

0
29
japan win

“Cara bicara orang Jepang mungkin sedikit sekali mengeluarkan droplet, sehingga penularan berkurang.”

Percaya atau tidak, alasan itu sempat mencuat dari beberapa pakar yang heran atas keberhasilan Jepang menangani pandemi Covid-19.

Kebingungan akan faktor pendorong keberhasilan itu memang wajar, sebab yang dikerjakan di Jepang seolah bertentangan dengan panduan yang selama ini dianjurkan untuk meredam wabah virus Corona baru ini.

Sempat mengalami lonjakan yang cukup tinggi di awal masa pandemi, Jepang kini mulai mendatarkan kurva kasus barunya.

Sejak tiga minggu terakhir, total kasus Covid-19 di Jepang, hanya bergerak pelan ke kisaran 17.000-an kasus. Angka kesembuhan pun sudah sebesar 81%.

Jepang bahkan berencana mulai menurunkan status darurat kesehatan untuk wilayah Metropolitan Tokyo dan Hokkaido di minggu ini.

“Jumlah kasus infeksi baru terus menurun setiap hari, demikian pula jumlah kasus kritis. Situasi kesehatan kini bisa lebih ringan,” demikian diungkap Menteri Kesehatan Jepang Katsunobu Kato sebagaimana dikutip Jakarta Post, Senin (25/5).

Yang menarik, Jepang sama sekali tidak memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), apalagi karantina wilayah atau lockdown.

Jika dibandingkan dengan wilayah terdekat dengan Tiongkok lain, Jepang terbilang sangat longgar dalam menjaga bandara dan pelabuhan.

Di Hong Kong atau Taiwan, misalnya, setiap orang yang baru datang dari luar negeri akan segera masuk zona karantina dan menjalani pemeriksaan medis yang ketat.

Sementara di Jepang, warga hanya memasuki pos pemeriksaan seraya diminta untuk mengkarantina diri selama 14 hari di rumah masing-masing.

Himbauan ini sebenarnya sangat mungkin dilanggar, karena tidak ada pembatasan untuk berpergian lintas kota. Namun, ternyata amat dipatuhi warga.

Berbagai bentuk kegiatan keseharian tetap berlangsung. Bahkan bisnis seperti restoran dan barbershop tetap dibuka, meski dengan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Baca juga:  Ada 102 Daerah di Indonesia yang Siap New Normal

Dibandingkan banyak negara maju, Jepang juga terbilang paling rendah menggelar tes massal Covid-19. Jepang hanya menguji sekitar 270.000 warganya, atau hanya 0,2 % dari keseluruhan populasi.

Berbeda dengan Tiongkok, Singapura atau Vietnam, Jepang pun tidak menerapkan kontrol canggih untuk melacak penularan dan penyebaran infeksi.

Namun, para medis di tiap wilayah lokal Jepang sudah sangat terlatih untuk mengerjakan pelacakan ini secara manual.

Meski pemerintah Jepang sempat dikritik karena agak lalai dalam sejumlah kebijakan, namun sepertinya warga Jepang sudah sangat terbiasa dengan pola hidup sehat dan tangguh menghadapi pandemi.

Disiplin semisal mencuci tangan, menjaga kebersihan, mengenakan masker saat keluar rumah, mematuhi aturan sosial, makan dengan nutrisi seimbang, segera berinisiatif melaporkan tiap kontak saat terjangkit infeksi, sudah jadi hal lumrah dilakukan warga Jepang.

Kuncinya memang bukan pada solusi instan, namun pada kesiapan di masing-masing lokal untuk berhadapan dengan virus ini.

Jepang mungkin contoh terbaik, bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan pandemi ini namun meminimalisasi risikonya. **RS

Foto: Unsplash