Press "Enter" to skip to content

Pandemi Covid-19, Angka Kelahiran Melonjak

Seruan untuk tinggal di rumah saja agaknya bisa berimbas pada lonjakan angka kelahiran di Indonesia.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, menjelaskan selama Maret 2020 ada lebih 10% dari akseptor KB yang mengalami kesulitan mengakses alat kontrasepsi.

Hal ini diperkirakan akan menaikkan angka kehamilan selama sebulan hingga sebesar 420.000 atau sekitar 15%.

Jika kesulitan berlanjut beberapa bulan ke depan, angka itu diprediksi mencapai tambahan 30% atau lebih dari 840.000 kasus kehamilan.

“Itu sangat signifikan, karena di Indonesia jumlah persalinan kan setahun 4,8 juta rata-rata. Kalau pakai rumus angka kelahiran, naik 420 ribu saja, kan sudah lumayan,” ungkap Hasto seperti dikutip Kompas (9/5).

Dalam wawancara dengan The Strait Times, Selasa (12/5), Hasto mengakui situasi pandemi Covid-19 menyebabkan sulitnya akses pada alat kontrasepsi.

“Banyak klinik kesehatan yang tutup, yang buka juga membatasi pelayanan,” ungkapnya.

Ini terutama dialami pengguna pil kontrasepsi yang berasal dari kalangan bawah, dimana mereka biasanya memperolehnya gratis dari klinik atau bidan desa.

Ketiadaan alat kontrasepsi dapat menimbulkan kehamilan yang tidak direncanakan. Di tengah situasi sekarang berisiko menambah beban psikologis, terutama bagi perempuan.

Hal ini juga dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan bayi yang dilahirkan. Kemungkinan malnutrisi atau bayi yang mengalami stunting akan semakin menyulitkan keluarga.

Angka ini juga menambah beban layanan kesehatan, terutama biaya persalinan dan perawatan bayi yang ditanggung oleh program JKN.

BKKBN sejauh ini berupaya meningkatkan kinerja petugas lapangan untuk terus mensosialisasikan pentingnya penurunan angka kelahiran penduduk.

Pelayanan secara proaktif, dilakukan dengan petugas yang mendatangi masyarakat pengguna alat kontrasepsi secara aktif.

“Misalnya ketika membagi sembako, juga sambil membawa pil atau membagikan kondom gratis, kita juga proaktif terhadap akseptor,” papar Hasto.

Baca juga:  Di India Ada Monyet Mencuri Sampel Covid-19

BKKBN juga tetap melanjutkan target kampanye untuk merekrut hingga satu juta akseptor KB baru di Bulan Juni.

Namun, Hasto tetap berharap masyarakat berinisiatif untuk mendukung upaya pembatasan kehamilan ini.

Ada alternatif yang lebih memungkinkan seperti penggunaan metode kalender atau vasektomi, meski kurang populer.

Surplus demografi Indonesia memang masih menjadi tantangan. Lonjakan selama dan pasca Covid-19 membuat strategi baru perlu diterapkan. **RS

Foto: Unsplash

Bagikan