Lebaran yang sepi

“Saya kangen banget sama keluarga di kampung. Tapi apa boleh buat, tahun ini nggak bisa mudik.”

Tohirin menceritakan kesepiannya, sebagaimana dinukil Al-Jazeera. Pria 59 tahun itu adalah salah satu kusir delman di wilayah Jakarta Utara.

Pandemi Covid-19 di tahun ini telah membuatnya terpisah dari keluarga. Tak hanya itu, penghasilannya pun berkurang jauh.

“Sebelum Corona, biasanya dapat ratusan ribu per hari. Apalagi kalau narik di dekat Monas. Sekarang sebanyak-banyaknya paling cuma 70 ribuan,” ungkapnya.

Tohirin sudah menarik delman hampir 20 tahun di jalanan Jakarta. Sebelumnya ia selalu rutin pulang kampung saat Idul Fitri. Berkumpul bersama istri, lima anak dan tujuh cucunya.

Kali ini ia hanya menghibur diri bersama dua kudanya dan rekan-rekan sesama kusir yang juga tidak bisa pulang.

“Kasihan ini kuda saja, si Joni dan si Jaka, biasanya dikasih makan tiga kali sehari. Tapi sekarang kadang nggak bisa dikasih makanan kuda, cuma makan rumput,” keluhnya.

Kesepian saat hari raya, tak hanya dirasakan Tohirin. Ada puluhan ribu pekerja sektor informal di Jakarta yang terpisah dari keluarganya di lebaran tahun ini.

Larangan untuk mudik, serta keterbatasan penghasilan membuat mereka terpaksa sekedar bertahan. Menikmati hari raya yang sepi.

Lain lagi cerita para pekerja medis yang masih harus berkutat di rumah sakit atau menjalani pembatasan fisik karena merawat pasien Covid-19. Mereka pun harus berlebaran sendirian.

Susanti, seorang perawat di Rumah Sakit Bintaro, Tangerang Selatan, merasa sedih karena tidak bisa pulang ke rumahnya di Lampung.

“Saya selalu pulang saat Lebaran, biasanya kalau di rumah pasti saya yang menyiapkan semuanya. Sedih sebenarnya. Tapi dengan tetap tinggal disini, saya tidak membahayakan mereka,” ungkap Susanti.

Baca juga:  Perlahan Bangkit dari Corona, Jepang Menang Tanpa PSBB

Kisah senada juga disampaikan Linda Winarsih. Sebagai seorang perawat yang merawat pasien Covid-19, Linda tahu betul ia harus membatasi diri.

Tahun ini jelas ia tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah. Demikian pula tidak bisa mengunjungi kerabatnya yang tinggal di Jakarta.

Linda terpaksa harus menahan diri untuk tidak bertemu orang tua dan tunangannya. Mereka sebelumnya merencanakan pernikahan akan berlangsung Agustus nanti.

Kepada Straittimes kedua perawat ini mengaku ini pengalaman pertama mereka benar-benar sendirian saat Idul Fitri.

“Mungkin ironi ya. Banyak orang yang sudah bosan tinggal di rumah. Kebalikannya, kami malah sangat kangen berkumpul di rumah bareng keluarga,” ungkap Susanti.

Tak ada yang lebih mereka harapkan selain agar pandemi ini cepat berlalu, sehingga semua keluarga yang terpisah bertemu kembali. **RS

Foto: Al-Jazeera.com

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.