Press "Enter" to skip to content

Never Have I Ever: Manis Gemas Khas Remaja

Berapa banyak dari kita yang melakukan konseling psikologi setelah kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup?

Orang-orang dewasa ini memang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental. Tapi tidak bisa dipungkiri jika masih ada stereotip yang membayangi saat kita mengakui bahwa kita bertandang ke terapis.

Seri Netflix Never Have I Ever punya penekanan tersendiri terhadap hal tersebut. Dimana jadwal konseling rutin dengan profesional tampil menjadi hal wajar.

Mindy Kaling, sang produser, memang banyak mengambil refleksi dari kisahnya sendiri sebagai remaja dengan sejumlah persoalan mental.

Seri ini tertumpu pada sosok Devi Vishwakumar, yang diperankan Maitreyi Ramakrishnan.

Devi adalah remaja keturunan India yang lahir dan tumbuh besar di Amerika. Ayahnya meninggal secara mendadak saat menyaksikan konser solo Devi bermain harpa.

Syok atas kejadian itu, Devi pun mengalami kelumpuhan kaki selama tiga bulan. Semenjak kehilangan, Devi rutin konseling dan menjalani terapi.

Kehilangan memang bukan hal mudah untuk dibicarakan. Devi kerap menghindar dan mengalihkan topik pembicaraan jika sudah mengarah ke ayahnya.

Setelah tahun pertama di SMA yang cukup ‘menyedihkan’, di tahun berikutnya Devi ingin mengubah image dan menjadi remaja hits.

Di sinilah konflik mulai muncul di sana-sini, karena ia sendiri sebenarnya masih memiliki kesedihan yang sulit diungkap.

Ingin menjadi bagian dari murid top, Devi mengajak dua sahabatnya, Eleanor (Ramona Young) dan Fabiola (Lee Rodriguez) untuk mencari pacar. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan mengincar Paxton (Darren Barnet), cowok paling terkenal satu sekolahan.

Sayangnya rencana ini memiliki banyak rintangan. Mulai dari ibu Devi (Poorna Jagannathan) yang terlalu protektif, sepupu yang kelihatan lebih sempurna, amarah khas remaja yang masih mencari jati diri hingga trauma yang masih belum selesai.

Belum lagi keegoisan yang muncul karena Devi merasa memiliki masalah paling berat dibanding para sahabatnya. Padahal, orang lain juga memiliki masalah yang ingin dibagi.

Baca juga:  Midnight Diner: Kisah Hidup dalam Makanan Jepang

Hubungan Devi dan ibunya menjadi hal yang begitu menyentuh di seri. Meski punya masalah kompleks, pada akhirnya ibu tetaplah ibu, anak tetaplah anak. Beberapa hal bisa dikompromikan dan sebagian lagi memang harus direlakan.

Yang juga menarik adalah bagaimana seri ini dengan manis namun tajam mengangkat permasalahan budaya pada generasi hybrid di Amerika.

Besar di Amerika dengan beragam teman, tentulah Devi punya kesulitan sendiri dalam memaknai dan memelihara tradisi keturunan Indianya.

Contoh sederhana, ayah ibu Devi adalah vegetarian, sedangkan Devi sangat suka makan daging.

Atau masalah Kamala (Richa Moorjani), sepupu Devi, yang walaupun sedang mengejar PhD di salah satu kampus ternama Amerika, masih harus menurut ketika dijodohkan.

Faktor ini pula yang menjadikan seri yang tayang sejak 27 April lalu itu mendapat rating cukup tinggi di Amerika.

Kehadirannya memberi nuansa segar karena dianggap menjadi representasi unik warga India-Amerika. Mampu menerobos streotip khas Hollywood selama ini.

Tak hanya bagi warga keturunan Asia Selatan, seri ini juga mewakili kegelisahan berbagai kelompok minoritas lain di Amerika Serikat. Memang dalam cerita representasi warga Afro-Amerika, Latin dan Asia Timur turut ditampilkan.

Maitreyi Ramakhrisnan, sang pemeran utama, pun banyak mendapat pujian. Walaupun ini kali pertama akting profesionalnya, Maitreyi dinilai sangat berhasil memerankan Devi dengan pesonanya sendiri.

Lepas dari betapa bagus dan betapa mengalirnya Never Have memadukan tema kesehatan mental, relasi keluarga serta isu budaya tadi, saya pribadi merasakan nuansa kerinduan lain.

Mungkin bagi banyak penonton usia dewasa-muda seperti saya, seri ini rasanya memutar ulang waktu. Membuat kita seolah melihat kembali masa remaja yang sudah lewat.

Momen ngobrol setiap hari di sekolah dengan sahabat dekat, cinta monyet, keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok murid populer dan masa-masa mengenali diri sendiri.

Baca juga:  Tigertail: Nostalgia dan Trauma Masa Kecil

Semuanya adalah manis gemas khas remaja yang terlalu indah untuk sekedar dianggap lewat. **HW

Foto: Youtube.com

Bagikan