Press "Enter" to skip to content

Mereka yang Terlupakan di Balik Anjuran Memakai Masker

Efektivitas penggunaan masker dalam mencegah pandemi Covid-19 memang cukup signifikan. Apalagi saat diwajibkan bagi seluruh warga yang keluar rumah.

Bahkan sebelum Covid-19 mewabah, pemakaian masker lazim dalam keseharian warga Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Agaknya kebiasaan ini bakal menjadi norma baru selepas pandemi.

Namun masker yang menutup bibir penggunanya, menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang tunarungu. Mereka seolah tersisihkan, atau tetap mengambil risiko.

Dalam reportase yang dirangkum media difabel Solider akhir April lalu, para difabel tuli di Indonesia umumnya merasakan halangan itu.

Ismail, seorang difabel tuli dari Solo misalnya, mengaku selama ini ia mengenakan masker kain biasa, saat keluar rumah. Saat akan berkomunikasi ia membuka maskernya dan meminta lawan bicaranya juga melakukan hal yang sama.

Hal serupa juga dirasakan Ika, difabel tuli asal Cianjur. “Saya suka minta dibuka dulu maskernya, dan bilang gerakan bibir tidak terlihat,” ungkap Ika.

Beberapa juru bahasa isyarat dan penyandang tuli di Indonesia telah merintis pembuatan masker transparan, terutama dengan bahan mika di sekitar bibir.

Bahkan staf khusus milenial Angkie Yudistia telah mempromosikan agar banyak komunitas mendorong gerakan ini.

loading…


Meski demikian, desain yang lebih nyaman serta keperluan dalam stok besar sejauh ini menjadi kendala.

Bahan mika sering terasa pengap, juga punya kecenderungan berembun atau memantulkan cahaya. Hal ini mungkin bisa disiasati dengan sedikit jarak dari posisi bibir.

Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana agar masker transparan seperti itu tidak hanya dipakai oleh mereka yang difabel tuli, tapi setiap orang yang akan berkomunikasi dengan mereka.

Ini penting terutama di layanan-layanan publik, yang semestinya menjangkau semua kalangan dengan kemandiriannya masing-masing.

Baca juga:  Menko PMK Minta Kemendag Seragamkan Harga Tes Swab

Alternatif lain yang mungkin bisa dikerjakan paralel adalah semakin meluaskan kemampuan penggunaan bahasa isyarat. Sebab dalam banyak hal, bahasa isyarat dapat digunakan untuk komunikasi dengan tidak terlalu banyak memakai gerak bibir.

Hal ini sebenarnya pekerjaan rumah yang lama terbengkalai. Penutur Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) maupun Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) masih terbilang terbatas pada para penyandang difabel tuli, juru bahasa isyarat dan para guru SLB.

Jika memakai masker di tempat publik bakal menjadi normal yang baru. Maka hal ini haruslah menjadi perhatian serius. **RS

loading…