Mengenang Ahmad Djuhara Pelopor UU Arsitek

0
33

Senin lalu (27/4), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bekerja sama dengan Program Sarjana Arsitektur Universitas Kristen Maranatha, menggelar seminar online bertajuk Tribute to Djuhara. Acara itu diselenggarakan tepat sebulan selepas kepergian Ahmad Djuhara, tokoh arsitek yang juga ketua IAI.

Sebagaimana diketahui, Maret lalu, Ahmad Djuhara dinyatakan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19. Ia sempat dirawat di RSPI Prof. Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Meski sempat dites dan hasilnya negatif, namun ia mengalami keluhan sesak nafas dan meninggal sebelum tes lanjutan diumumkan.

Juju, demikian ia akrab disapa, saat itu tengah menjalani periode kedua sebagai ketua IAI. Bersama gerakan Arsitek Muda Indonesia (AMI), Juju adalah tokoh yang memperjuangkan agar profesi arsitek di Indonesia beroleh perlindungan hukum dan kepastian profesionalitas. Hasilnya adalah disahkannya UU No 6 tahun 2017 tentang Arsitek.

Dalam seminar, rekan seperjuangan di AMI, Danny Wicaksono memberi kesaksian bahwa Juju sedari awal punya cita-cita untuk konvensi arsitek Indonesia. Ia berharap organisasi arsitek juga memiliki visi untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dalam menjalankan profesinya yang kaya prestasi, Juju memang dikenal sebagai arsitek yang peduli lingkungan. Ia aktif melakukan edukasi pada masyarakat terkait green-building.

Rumah Baja Wisnu adalah contoh karya fenomenalnya yang pernah diganjar IAI Award 2008. Karya rumah baja ini membuatnya populer dan disegani di kalangan arsitek. Hingga kini, rumah tersebut kerap dijadikan kajian studi mahasiswa arsitektur dan arsitek pemula.

Karya lain yang cukup dikenal adalah bagaimana ia mengubah Shining Stars Kindergarten, dengan keterbatasan yang ada, menjadi sekolah sekaligus taman bermain yang asri bagi anak.

Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini juga dikenal aktif dalam beragam organisasi arsitek. Ia juga sering menjadi juri dan technical reviewer bagi sejumlah proyek yang beroleh penghargaan arsitektur bergengsi seperti Aga Khan Award.

Sang istri, Wendy Djuhara, yang juga berprofesi sebagai arsitek mengakui bahwa Juju adalah sosok yang pantang menyerah. Ia masih punya banyak mimpi bagi organisasi arsitek dan hal yang ingin ia teruskan pada generasi muda.

Baca juga:  Saatnya Robot RAISA Bantu Tangani Pasien Covid-19

“Sering ia mengagumi dan mengamati detil referensi dari berbagai arsitek kelas dunia, untuk kemudian disampaikan pada arsitek muda kita. Ia mau supaya makin banyak arsitek Indonesia yang bisa bersaing di dunia internasional,” ungkap Wendy.

Cita-cita dan teladan yang begitu mulia ini tentu perlu diteruskan. Tidak hanya sekedar nostalgia. **RS

Foto: Archdaily.com