ayah, ibu dan anak

Awal Mei lalu media New York, Time, mengangkat kisah Rob Master. Seorang pasien Covid-19 berusia 49 tahun.

Rob dikenal sebagai seorang yang berbadan atletis, cukup rajin berolah raga, serta sangat menjaga nutrisi makanan. Meski sangat sehat dan fit, ia bukan terinfeksi tanpa gejala. Rob tetap harus menghabiskan waktu seminggu penuh berbaring di ranjang saat terserang Covid-19.

Pria asal Larchmont, New York itu menjadikan pengalamannya sebagai peringatan bagi banyak orang yang merasa fit, lantas bertindak sembrono tanpa khawatir tertular Covid-19.

Namun yang menarik dari kisah Rob Master adalah cerita tentang istrinya, Lori. Selama Rob terbaring lemah di rumah, Lori merawat dengan risiko terpapar yang cukup besar.

Hebatnya, tak sekalipun tes pada Lori menunjukkan ia positif terinfeksi virus.

Tentu saja, sudah sangat banyak perempuan yang saat ini telah tertular Covid-19. Akan tetapi, data di berbagai tempat konsisten menunjukkan jumlah penderita pria memang lebih banyak dan lebih rentan.

Data paling awal di Februari 2020 dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok menyebut bahwa tingkat kematian karena Covid-19 lebih tinggi pada laki-laki (2,8%) dibanding perempuan (1,7%).

Sementara laporan jelang akhir April lalu, laporan JAMA menunjukkan 60% penderita Covid-19 di New York adalah laki-laki.

Di Indonesia kecenderungannya juga serupa. Dalam data Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Rabu (27/5) tercatat penderita Covid-19 laki-laki ada sebanyak 63,3%.

Sejauh ini belum ditemukan alasan mengapa terjadi kecenderungan yang demikian.

Ada dugaan bahwa hormon seksual pada perempuan punya fitur yang lebih memungkinkan untuk perlindungan tubuh.

Dua studi terpisah di Amerika Serikat memang mengindikasikan bahwa keberadaan hormon estrogen dan progesteron punya kecenderungan melindungi sel dari infeksi virus.

Baca juga:  Malaysia Larang Warga Indonesia Masuk, Apa Dampaknya?

Namun, hasil ini masih belum menjawab kasus dimana perempuan yang telah mencapai masa menopause juga masih memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dari laki-laki di usia serupa.

Dugaan lain, ini terkait sejumlah fitur imunitas dalam kromosom X. Karena perempuan punya dua kromosom tersebut, maka punya perlindungan yang lebih baik.

Sejauh ini dugaan soal peran kromosom X tersebut masih menjadi bahan riset dari Yale School of Medicine dan belum mencapai kesimpulan final.

Sejumlah pakar kesehatan masih meyakini laki-laki dan perempuan memiliki potensi terinfeksi yang sama, perbedaan itu lebih karena faktor lain, termasuk faktor sosial.

Di banyak tempat pria lebih banyak kemungkinan terpapar, karena punya mobilitas lebih banyak ke keramaian.

Demikian pula kebiasaan buruk seperti merokok atau juga penyakit bawaan yang lebih memudahkan tubuh terinfeksi. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.