Media Australia di Balik Kritik Penanganan Covid-19 di Indonesia

“Cara Indonesia menangani Covid-19 merupakan yang terburuk di Asia Tenggara.”

Demikian tulis Rafiqa Qurrata A’yun dan Abdil Mughis Mudhoffir sebagai opini di Melbourne Asia Review, Jumat (15/5).

Rafiqa, pengajar di FH UI dan Abdul Mughis pengajar di jurusan Sosiologi UNJ mendasarkan opini itu pada tingginya kasus kematian karena Covid-19 (hampir 7%, jauh di atas kebanyakan negara yang sekitar 0-3%) serta buruknya kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini.

Kritik terhadap kebijakan itu meliputi enam indikator yaitu keengganan untuk memberikan jaminan sosial pada yang membutuhkan, elit pemerintah yang memiliki konflik kepentingan, minimnya pertanggungjawaban terkait pengeluaran, ditangkapnya orang yang mengkritik pemerintah, pengesahan aturan kontroversial di tengah krisis dan ketidakseriusan menghadapi krisis.

Opini ini langsung menjadi salah satu trend berita di Indonesia. Sampai Senin (18/5) tercatat kelompok media seperti grup Kompas, Grid, Warta Kota memuat bahasan ini dengan judul yang hampir semua menyorot pada frasa “terburuk di Asia Tenggara” itu.

loading…


Ini bukan kali pertama, media Australia menjadi ruang pertama kritik terhadap kesalahan pemerintah Indonesia menangani Covid-19.

Sebelumnya ABC News menyorot keprihatinan para ilmuan Indonesia yang merasa kebijakan pemerintah tidak cukup melibatkan pendekatan ilmiah. Hal ini pun dimuat dalam media seperti Detik, Viva dan Tempo.

Atau yang paling terkenal, awal Mei lalu saat The Sydney Morning Herald dan The Age memuat wawancara dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang menyindir pemerintah pusat Indonesia terkait penanganan pandemi Corona ini.

Harus diakui media Australia mungkin yang paling mungkin memuat kritik-kritik seperti ini.

Pertama sekali, karena dari semua negara tetangga terdekat Indonesia, Australia jelas yang terdepan mengusung kebebasan berpendapat di ruang publik juga kebebasan pers.

Baca juga:  Luhut vs Said Didu: Etika Kritik di Saat Kritis

Hal ini mungkin tidak bisa banyak kita harapkan dari media-media di Malaysia, Brunei, Singapura atau Filipina.

Kedua, yang tak kalah penting, kondisi di Indonesia memang merupakan hal yang sangat berdampak bagi warga Australia.

Jumlah warga Indonesia yang tinggal dan berkunjung ke Indonesia terbilang cukup besar. Demikian pula warga Australia yang berkunjung ke Indonesia.

Selama ini, arus interaksi manusia di kedua negara terbilang besar dalam mendukung banyak aspek ekonomi, seperti perdangan, pariwisata dan pendidikan.

Kasus Covid-19 sudah mulai mereda di Australia. Wajar jika warganya berharap pandemi Covid-19 di Indonesia

segera teratasi. Karena jika tidak, selalu ada kemungkinan Australia akan mengalami gelombang pandemi berikutnya.

Kritik seperti yang dilontarkan opini Rafiqa dan Abdil Mughis, atau reportase ABC News memang cukup jelas terlihat dalam kebijakan pemerintah mengatasi Covid-19.

Meski demikian, wawancara dengan Anies Baswedan harus diakui, lebih bernada politis.

Warga Indonesia tidak perlu bereaksi berlebihan dan menunjukkan sentimen semata karena media asing yang memberitakan.

Sepanjang pandemi Corona di Indonesia belum berakhir, selalu ada kemungkinan kritik-kritik seperti ini terlontar dari media Australia. **RS

Ilustrasi: melbourne

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.