“Maria Mercedes sampai mengubah jam masak ibu-ibu.” Ini bukan sekedar canda. Telenovela Meksiko itu sempat booming di tanah air sekitar tahun 1993.

Ditayangkan di SCTV setiap pagi jam 9 di hari Senin, Rabu dan Jumat, drama yang diperankan Thalia itu betul-betul digandrungi. Sampai pedangdut legendaris, Jaja Miharja, tak ketinggalan menjadikannya inspirasi salah satu lagu.

Tapi, Maria Mercedes bukanlah sentuhan pertama publik Indonesia dengan telenovela. Opera sabun khas Amerika Selatan itu pernah hadir lebih awal di stasiun TVRI.

Telenovela Brazil, Sinha Moca, yang lebih dikenal dengan judul Inggrisnya Little Missy sudah lebih dulu ditonton dan membekas di hati pemirsa Indonesia pada 1988-1991.

Bedanya Little Missy memang masih berlatar klasik, kisah perbudakan dan hidup bangsawan di daerah perkebunan Brazil pada abad ke-19. Maria Mercedes lebih modern dan dekat dengan keseharian.

SCTV dan TVRI tidak berhenti pada dua seri legendaris itu. Seri seperti Kassandra, Esmeralda, Rosalinda, Esperanza, Amigos, Maria Cinta yang Hilang, dan banyak judul lain berganti-gantian menjadi andalan SCTV meraih pemirsa yang umumnya kaum ibu.

TVRI sempat merilis satu lagi drama Brazil, Diretio de Amar (Right to Love), sebelum beralih ke keluaran Meksiko seperti Harapan Nan Sirna dan Hati yang Mendua, yang dibintangi aktor kenamaan Erik Estrada.

Tak lama kemudian, RCTI, Indosiar dan TPI turut menayangkan telenovela. Judul terkenal seperti Acapulco Bay, Marimar, Carita de Angel, Soledad, Samantha, Cinta Paulina, Kemelut Cinta, Gaby Hanya Kau Cintaku, hingga Betty la Fea sempat begitu ditunggu tayangnya.

Televisa, stasiun televisi Meksiko merupakan penyumbang terbesar telenovela di Indonesia. Selain itu ada Venevision (Venezuela), RCN (Kolumbia), America Producciones (Peru) dan Rede Globo (Brazil).

Baca juga:  Lima Manfaat Tertawa bagi Kesehatan

Seperti namanya, telenovela, memang berarti novel di televisi. Umumnya kisah yang diangkat adalah percintaan, hubungan keluarga dan segala intriknya.

Selepas 2002, trend telenovela mulai tergeser. Makin ramainya sinetron Indonesia, juga serial dari India dan Asia Timur menggantikan trend itu.

Bahkan, di tempat asalnya sendiri, genre telenovela, mulai tergeser oleh tipe serial yang lebih realis. Apalagi sejak publik Amerika Latin kenal seri khas Barat dan Asia.

Meski demikian, telenovela ini sempat disukai di banyak tempat. Bahkan sempat jadi rujukan sinetron Indonesia dan beberapa negara lain.

Fitur yang tak mungkin terlupa adalah cerita yang mendayu, musik dramatis beserta efek wajah yang di-zoom bergantian. Mungkin sekarang terkesan lucu, tapi bukankah bikin kangen juga? **RS

Foto: Tvtime

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.