Press "Enter" to skip to content

Keunikan Bahasa Jawa dalam Tingkatan Tutur

Hampir semua pakar meyakini pembedaan krama-ngoko di Bahasa Jawa baru langgeng selepas berdirinya Kesultanan Mataram.

Di masa Jawa Kuno hingga kesultanan Demak dan Pajang, jenis Bahasa Jawa yang digunakan tanpa tingkatan tutur atau undha-usuk.

Peneliti Belanda, G.P. Rouffaer meyakini era Kartasura di kesultanan Mataram (1680) adalah momen di mana undha-usuk Bahasa Jawa memperoleh bentuk tetap. Meski sebelumnya sudah berkembang sejak era Sultan Agung.

Ragam Bahasa Jawa halus (kromo inggil), agaknya bermula dari politik dinasti Mataram untuk meluaskan pengaruhnya dengan menciptakan pembedaan.

Wangsa Mataram dan keluarganya berusaha dianggap istimewa dengan dibedakan dalam tutur-kata.

Hal ini terlihat dari kefasihan menggunakan bahasa tingkatan krama. Biasanya itu di wilayah yang lebih dekat dengan Surakarta dan Yogyakarta, sebagai pewaris Mataram.

Berbeda misalnya dengan bahasa di pantai utara Jawa Tengah dan Bahasa Jawa Timur yang lebih egaliter.

Meski demikian, pembedaan tingkatan tutur itu kini menjadi fitur yang unik. Tidak banyak bahasa di dunia yang membedakan nomina, verba dan adjektiva karena perbedaan strata sosial.

Dalam sistem “unggah-ungguh” (sopan santun) berbahasa Jawa, secara umum dibedakan dua kelompok yaitu ragam bahasa krama (halus) dan ngoko (kasar).

Kedua ragam ini pun masih ada penggolongannya lagi. Setidaknya ada yang disebut krama lugu, yaitu tingkatan krama yang lebih rendah dari krama alus atau kromo inggil. Demikian pula ngoko lugu dan ngoko alus.

Atau ada pula yang menambah kategori krama madya, yang punya kosa kata netral.

Poedjosoedarmo, menjelaskan pemilihan tingkatan tutur ini memperhatikan beberapa faktor. Yaitu usia, orang yang muda diharuskan menghormati yang lebih tua. Lantas, kekerabatan, di mana orang yang sudah akrab biasanya menggunakan ragam ngoko.

Baca juga:  Merintis Usaha Tambahan di Tengah Pandemi

Ada pula faktor derajat pangkat, kekayaan, garis keturunan dan tingkat pendidikan, di mana status yang lebih tinggi biasanya dikenai ragam krama.

Meski demikian, menutur undha-usuk Jawa, tidaklah segampang membuka kamus Bahasa Jawa lalu menggunakan semua kosa-kata halus pada yang kita hormati atau kosa-kata kasar dan madya pada yang setara serta yang semestinya menghormati kita.

Ada aturan minggahmandap (naik-turun) yang perlu diperhatikan terkait posisi. Baik sebagai orang pertama, kedua atau ketiga saat berbicara dengan orang yang berbeda strata.

Ambil contoh, kata memberi dalam ragam krama adalah atur dan paring. Saat kita ingin mengatakan: “Ibu Lurah memberikan berita pada Ibu Camat,” kita akan berkata: “Ibu Lurah ngaturaken satunggaling pawartos ing ngarsanipun Ibu Camat.”

Namun jika sebaliknya, Ibu Camat yang memberikan, kalimat yang keluar dalam Bahasa Jawa adalah: “Ibu Camat paring satunggaling pawartos dhateng Ibu Lurah.”

Ini karena dalam derajat-pangkat, Ibu Camat ada sebagai posisi atasan yang semestinya lebih dihormati.

Contoh lain, saat subyek adalah orang yang posisinya lebih rendah, maka kata-kata yang terkait dirinya justru tidak memakai ragam krama. Ragam itu dipakai untuk menyebut kata-kata terkait orang yang dihormati.

Misal, saat seorang pemuda ingin permisi pulang pada yang lebih tua, ia tidak mengatakan: “Kulo kondur,” karena kata kondur adalah ragam krama yang mestinya disematkan pada yang dihormati. Si pemuda semestinya merendahkan diri dengan berkata “Kulo wangsul.”

Disinilah letak kerumitan sekaligus keindahan seni berbahasa. Wajar, jika tidak banyak orang di zaman sekarang yang bisa menguasainya dengan baik.

Penekanan utama undha-usuk Bahasa Jawa ada pada kesadaran akan posisi dalam masyarakat serta upaya menjaga adab pergaulan. **RS

Baca juga:  Liga Eropa Kembali Bergulir, Bagaimana Formatnya?

Foto: Ikiiku.net