Ken Arok dan Konflik Sosial di Indonesia

Ken Arok, namanya tercatat dalam sejarah tanah Jawa. Ia menghabisi nyawa Ametung, Akuwu Tumapel, merebut Dedes dan meraih kekuasaan. Semuanya tanpa lumuran darah di tangannya.

Kebo Ijo-lah yang menjadi kambing hitam, karena kecerobohan atau mungkin kebodohannya “bermain-main” dengan keris setengah jadi, pesanan Arok pada seorang empu bernama Gandring.

Arok telah dikutuk tujuh turunan saat ia tengah merebut keris yang belum selesai dari tangan Mpu Gandring. Konflik tak berhenti setelah Ametung tewas. Kelak putra Ametung, Anusapati, menuntut balas pada Arok atas kematian sang ayah.

Pola perebutan kekuasaan serta konflik semacam kisah Arok, masih sering terjadi dalam kehidupan sosial-masyarakat kita. Malah menghasilkan varian yang saling tumpang tindih, dari sisi motif, sasaran, pelaku, maupun ”kambing hitam”-nya.

loading…



Tentu saja konflik tak muncul sekonyong-konyong tanpa sebab, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kedua wajah konflik tersebut – jika tidak ada upaya untuk menyelesaikannya, akan memiliki tipe katup pelepasan yang sama, yaitu kekerasan.

Konflik sosial bisa terjadi karena pelbagai pertentangan antar kelompok sosial dalam masyarakat atas dasar suku, agama, ras, status ekonomi, gender, bahasa, status sosial, dan keyakinan politik, dalam sebuah interaksi sosial yang sifatnya dinamis.

Jika kita melihat dan mengingat kembali berbagai peristiwa berdarah yang pernah terjadi di negeri ini, siapakah sebenarnya masyarakat kita? Hampir semua konflik horizontal muncul dari prasangka sosial, namun diperalat oleh kekuasaan.

Kita punya banyak catatan, semisal konflik peristiwa 27 Juli, kerusuhan 1998, kerusuhan di Maluku, atau konflik 1965. Semuanya punya basis prasangka sosial terkait ideologi, suku atau agama. Tapi tidak murni hanya karena persoalan tersebut. Ada banyak provokasi dibaliknya.

Peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan sekaligus yang diberi mandat kekuasaan oleh rakyatnya sangatlah vital. Pendekatan agresif dan represif tanpa kesediaan untuk saling mendengar dan menerima bukanlah jalan yang arif. Sebab akan melahirkan konflik baru di masa mendatang.

Baca juga:  Lima Hal Berguna yang Dapat Kamu Lakukan dengan Akun Sosmed Kamu

Kisah Arok merupakan gambaran lugas bagaimana pertentangan keyakinan politik – yang berkelindan dengan agama atau hal primordial lain – menjadi sebuah dasar yang menggerakan seseorang atau kelompok masyarakat menafikan sisi-sisi kemanusiaannya. Sampai pada keturunan berikutnya pun masih saling mendendam.

Dalam konflik, pihak-pihak yang berseteru sering kehilangan kemanusiaannya. Karenanya perdamaian harus tetap diupayakan oleh kita sebagai umat manusia. Karena itulah semestinya yang menjadi suatu misi keberadaan kita di muka bumi. **DW

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.