Press "Enter" to skip to content

Keluarga: Sekolah Tanpa Ijazah

Bicara soal peran keluarga, mungkin banyak dari kita yang cukup familiar dengan prinsip Don Vito Corleone dalam film The Godfather.

“A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man,” begitu Don Vito mengucap tenang pada Jhonny Fontane.

Sibuk dengan pekerjaan? Sibuk dengan karir? Tak sempat berkumpul dengan keluarga? Jika jawabannya ‘ya’, ucapan tadi akan menjadi tamparan.

Meski menggunakan kata ‘man’atau lelaki, sesungguhnya berlaku untuk kita semua, tanpa bias gender.

Ucapan itu mengingatkan bahwa keluarga adalah hal terpenting yang harus selalu diingat dalam hidup. Penting karena keluarga adalah tempat kita mendapatkan pendidikan semenjak masih jabang bayi, hingga akhirnya kita dewasa.

Dengan kata lain, keluarga adalah ‘pabrik’ yang nantinya menentukan siapa kita nantinya hingga ajal menjemput.

Banyak yang terkadang lupa, bahwa pendidikan yang sebenarnya kita peroleh di keluarga.

Ambil contoh jika kita duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dalam sehari, kita hanya menghabiskan sekitar 6-8 jam untuk mendapatkan pendidikan formal. Sisanya akan dihabiskan di keluarga.

Di sisa waktu itulah, sebenarnya kita dididik disiplin, belajar membuat komitmen, menentukan target, bertanggung jawab menyelesaikan tugas dan belajar membantu anggota keluarga lain.

Intinya, apa yang kita dapatkan di sekolah formal, sebenarnya harus diterapkan di keluarga.

Sayangnya, banyak yang alpa menerapkan hal ini. Sekolah, bimbingan belajar, berbagai kursus, dianggap jalan keluar untuk membentuk kepribadian seseorang.

Padahal, instruktur, guru, pengajar, dan apapun sebutannya, hanya memiliki tanggung jawab selama berada di kelas. Di luar itu, mereka tak terlibat.

Sedangkan, fungsi keluarga bertanggung jawab atas seseorang 24 jam sehari, 7 hari seminggu selama hidup.

Baca juga:  Indonesia Pasti Bisa dengan Semangat Ari Lasso

Harus diakui, pendidikan dalam keluarga itu tidak ‘seksi’. Keluarga tidak memberikan ijazah, sertifikat, atau syarat formil lain untuk dunia kerja.

Namun, peran keluarga sebenarnya memberikan hal-hal non-formil yang justru menentukan karakter bangsa ini ke depannya.

Tidak akan ada lembaga atau institusi pendidikan manapun yang memberikan sertifikat kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Tujuan keluarga, di sisi lain, adalah satu-satunya lembaga yang mampu membangun nilai-nilai ini. Ungkapan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, adalah pembenaran untuk hal ini. Ini adalah ciri-ciri keluarga yang paling khas.

Tanpa adanya contoh dan pendidikan yang cukup dari keluarga, manusia yang dilahirkan di dalamnya hanya akan menjadi pesakitan yang mengelak ketika diminta tanggung jawab, enggan mengakui kesalahan dan lain sebagainya.

Absennya peran keluarga dalam aspek pendidikan bagaikan seorang anak kecil yang memegang pistol, dan tidak tahu cara menggunakannya. Berbahaya, tidak bertanggung jawab, dan akan berujung pada kondisi yang mengerikan.

Sekolah formil hanya memberikan peluru beserta senjatanya, namun keluargalah yang mengajarkan kita bagaimana menggunakannya dengan baik.

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan kita harus tinggal di rumah saja, nampaknya bisa mendorong kita untuk lebih dalam merefleksikan hal ini.

Saat ini kita bisa rehat sejenak dari semua kesibukan luar rumah. Kita punya banyak waktu untuk berinteraksi menghayati fungsi keluarga.

Saat orang tua meluangkan waktu mendampingi anak dalam proses belajar, kepedulian terhadap proses pendidikan anak semoga menjadi lebih diupayakan. Ada banyak aspek dalam diri anak saat belajar yang butuh dihidupi bersama dalam keluarga.

Itu pula kiranya jadi refleksi buat pendidikan formil. Bagaimana mengembangkan kurikulum, metode dan interaksi sehingga lebih menjadikan pendidikan ini terintegrasi dengan keseharian dan bentuk keluarga.

Baca juga:  Jangan Tolak Jenazah Covid-19

Kita perlu selalu ingat ucapan Don Vito. Kalau kita mau menjadi manusia seutuhnya, sudah seharusnya kita meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga. **PH

Foto: Unsplash