Press "Enter" to skip to content

Jokowi Bukan Satrio Piningit

Hanya sedikit warga Solo, apalagi warga Indonesia, yang tahu siapa Joko Widodo saat maju di Pilwalkot Solo 2005.

Di pemilu pertamanya sebagai calon pemimpin, Jokowi tak sampai meraih 100.000 suara, hanya 36% dari total pemilih.

Jumlah itu bahkan lebih sedikit dari para pemilih yang bersuara tidak sah atau tidak memakai hak pilihnya.

Praktis kala itu, Jokowi menang semata-mata karena Surakarta memang salah satu kandang Banteng. Wilayah dengan sekian banyak loyalis PDI-P, partai yang mengusungnya.

Tapi, justru dari kesenyapan itulah pria kelahiran Solo 21 Juni 1961 ini berkarya. Pengalamannya sebagai pengusaha dan kolaborator yang baik, pelan-pelan mengubah wajah kota menjadi lebih manusiawi sekaligus modern.

Yang paling banyak disorot dalam sejumlah biografi Jokowi adalah soal kelihaiannya dalam menertibkan dan menata ulang para pedagang kaki lima di sejumlah wilayah sentral kota.

Cukup lima tahun, Jokowi berhasil memperkenalkan bus Batik Solo Trans, menata kawasan sentral seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro. Bahkan sisi budaya Solo pun diperkaya dengan menjadikannya tuan rumah berbagai acara internasional.

Mengubah Persepsi soal Pejabat
Pendekatan dan komunikasi Jokowi saat itu dianggap sebagai terobosan unik. Mengubah persepsi kebanyakan orang soal citra pejabat publik.

Harus diakui, sebelum Jokowi, pemimpin di negeri ini selalu diidentikkan dengan kewibawaan dan karisma. Layaknya satrio piningit, tumpuan semua harapan akan kemajuan dan kemakmuran.

Presiden Soekarno, Soeharto dan SBY, dengan ciri masing-masing, adalah sosok pada patron itu. Mereka berwibawa secara tampilan. Demikian pula sosok B.J Habibie, Gus Dur dan Megawati.

Memang mereka bisa mencitrakan diri dekat dengan rakyatnya, namun tetap saja pamor dan pembawaannya seolah tak mungkin disamai oleh rakyat.

Namun Jokowi seolah berbeda. Ia terlihat sama saja dengan warga yang kecil. Bukan satria, bukan brahmana.

Baca juga:  Resepsi Nikah Akan Dimungkinkan di Bandung

Rasanya bukan kebetulan pula ia hadir saat era digital yang lebih egaliter mulai memasuki semua sisi kehidupan.

Soal layanan publik misalnya, putra dari Noto Mihardjo dan Sudjiatmi ini ngotot agar pemerintah sepenuh hati melayani warga. Jangan kalah dengan layanan customer service-nya sektor swasta.

Itulah yang membuatnya mulai populer. Jelang akhir periode pertamanya sebagai walikota Solo, suami dari Iriana Joko Widodo ini mulai sering diundang dan berbagi gagasan di tengah publik.

Pilkada Solo periode kedua di 2010 pun jadi langkah mudah. Tanpa banyak kampanye, Jokowi meraup lebih dari 90% suara.

Jokowi pakai baju Bali

Terpaksa Beneran Berpolitik
Selepas itu, rupanya Jokowi tak boleh lagi bekerja senyap. Saat memasuki kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2012 sorotan pun begitu terarah padanya.

Berduet dengan Ahok, keduanya dianggap sebagai dua sosok terbaik dari daerah yang dipersembahkan bagi kemajuan ibukota.

Mereka pun dinilai menampilkan politik gaya baru yang berbasis relawan, serta kampanye yang melibatkan kaum muda dan media sosial.

Para calon pemimpin di sejumlah daerah mulai menoleh gaya kampanye dan kepemimpinan Jokowi. Tentu agak lucu melihat mereka yang biasa tampil mewah, kini harus blusukan dan mencitra sederhana.

Namun, tepat disitulah efek harapan berlebihan mulai ditumpukkan. Banyak menerapkan kebijakan populis seperti penataan rumah susun, penanggulangan banjir, kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, lelang jabatan untuk PNS serta sekian banyak program kreatif, rakyat mulai banyak berharap…

Jokowi pun tak lagi bisa bekerja dengan senyap. Selama dua tahun di kantor gubernur, hampir tak ada hari tanpa pemberitaan sosoknya. Ia jadi media darling.

Mau tak mau, sosoknya pun segera populer di seantero negeri. Memenuhi ekspektasi akan sosok pemimpin baru secara nasional, selepas SBY usai masa jabatan.

Baca juga:  Selandia Baru Contoh Lain Sukses Hadapi Covid-19

Tepat disinilah Jokowi harus benar-benar berpolitik, dalam arti harus lihai dan licin. Disini pula ia harus memenuhi ide-harap akan satrio piningit. Sosok yang jadi kunci semua keinginan untuk maju dan makmur.

Sayangnya Jokowi tetaplah manusia dengan keterbatasan. Ia bukan satrio piningit. Ada banyak kebijakannya yang pasti layak dikritik.

Sebagai presiden di dua periode, komitmennya dalam menegakkan HAM dan memberantas politik transaksional, atau sejumlah tumpang tindih kebijakan di masa pandemi Covid-19 ini sah-sah saja untuk diberi rapor buruk.

Sebentar lagi periode kepemimpinannya akan selesai. Namun rasanya kita sudah bisa menebak dari yang telah dicapai Jokowi hari ini.

Jokowi tetaplah manusia seperti kita. Politisi yang bagaimanapun harus lihai berpolitik. Ia bukan satrio piningit, juru selamat dan solusi dari semua masalah. **RS

Foto: Instagram/Jokowi