lansia

Tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Peringatan ini mulai dicanangkan oleh Presiden Soeharto sejak 1996.

Secara internasional, PBB telah menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai momen menumbuhkan kepedulian bagi kesehatan dan kesejahteraan lansia.

Sementara, di banyak negara lain tradisi hari untuk kakek-nenek juga dirayakan pada hari-hari tertentu. Contohnya national granparent day di Amerika Utara, yang dirayakan setiap awal September. Atau momen tanggal sembilan bulan sembilan yang menjadi hari dedikasi buat lansia di wilayah yang menggunakan kalender Tiongkok.

Indonesia memilih tanggal 29 Mei untuk mengenang momen Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat memimpin Sidang BPUPKI di tahun 1945, saat ia telah berusia lanjut (66 tahun).

Agaknya, dalam pemikiran pemerintahan Orde Baru saat itu para lansia diposisikan sebagai orang yang telah mengalami pengalaman berharga, patut diteladani oleh generasi penerus bangsa.

Ini lebih jauh terlihat pada pembentukan Undang-Undang No 13/1998 yang mengatur tentang kesejahteraan warga lansia, yang didefenisikan berusia 60 tahun ke atas.

Aturan itu menekankan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan sosial warga lansia.

Dijabarkan bahwa pelayanan keagamaan dan mental spiritual, kesehatan, kesempatan kerja, pendidikan dan pelatihan, kemudahan dalam penggunaan fasilitas sarana dan prasarana umum, kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum, perlindungan sosial, dan bantuan sosial, adalah bentuk tanggung jawab tersebut.

Sayangnya, hingga 24 tahun perayaan HLUN, masih banyak layanan tersebut belum mewujud di tingkatan minimal sekalipun.

Dalam Ketua Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (Pergami), misalnya, tercatat hanya 13,2 % warga lansia Indonesia yang terbilang sehat dan bisa beraktivitas normal. Sisanya adalah mereka yang mengidap penyakit namun masih bisa beraktivitas maupun yang sudah dalam kondisi sakit.

Baca juga:  Penyair Sapardi Djoko Damono Tutup Usia

Pergami juga mencatat para lansia terancam menderita beberapa penyakit sekaligus. Pada seorang lansia bisa ada 5-7 masalah kesehatan.

Lebih jauh masalah yang kompleks juga masih terjadi terkait sarana publik serta aspek layanan sosial bagi para lansia juga menjadi masalah tersendiri.

Bagi kebanyakan masyarakat, perawatan warga lansia umumnya masih ditimpakan pada anak-anaknya. Bukan lewat jaminan sosial yang menjamin kesetaraan antar tiap lansia.

Ini memang masih terbentur permasalahan kultural. Beberapa negara maju dengan tradisi ketimuran juga masih berkutat di masalah serupa.

Persoalan-persoalan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Mengingat jumlah warga lansia di Indonesia akan terus bertambah.

Hingga 2019, warga lansia sudah mencapai 7 persen dari total penduduk di Indonesia. Angka ini diperkirakan akan bertambah hingga 9,9 persen di 2020.

Pandemi Covid-19 juga membuat kita perlu semakin mawas, mengingat kelompok usia ini juga adalah yang paling rentan terhadap infeksi. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.