Ekspedisi Tanah Papua: Membuka Album Lama Sekaligus Baru

Papua mungkin sudah banyak berubah sekarang. Membaca Ekspedisi Tanah Papua kini punya keseruan tersendiri. Kita dibawa pada situasi dimana sejumlah fenomena ketimpangan jelas terjadi di wilayah paling timur Indonesia itu. Buku ini merupakan laporan perjalanan jurnalistik Kompas, yang dilakukan pada Agustus 2007. Perjalanan tiga pekan ini melibatkan belasan wartawan dan fotografer.

Tanah Papua diberkahi oleh berbagai kekayaan alam namun kerap tak terjangkau tangan penduduk aslinya. Bak membuka kotak Pandora, pertambangan yang dibuka di tanah Papua seperti memulai kutukan. Tak bisa menikmati hasil kekayaan alam mereka sendiri, mereka justru melarat dan terbelakang di atas kekayaan mereka.

Masyarakat asli Papua seperti terasing di tanah sendiri. Pembangunan yang tidak tepat sasaran menjadikan mereka sebagai objek program pembangunan, bukan subyek. Namun, keterlambatan pembangunan ini tidak bisa dilimpahkan kepada pemerintah seluruhnya. Kultur budaya yang terdapat di Papua juga menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan.

Bayangkan, di Papua seorang pendulang emas lepas bisa mengumpulkan uang 2-10 juta rupiah sehari, namun uang tersebut akan dihabiskan dalam semalam, untuk senang-senang dan mabukmabukan.

loading…


Papua bukan sekedar tambang emas di Tembagapura. Ia lebih dari itu. Mungkin itu juga pesan yang ingin disampaikan para penulis. Banyak hal yang indah serta mengagumkan tersimpan dalam lipatan-lipatan gunung dan bukit. Ada kebudayaan, ada kekayaan alam serta laut, juga seni.

Namun Ekspedisi juga menyajikan pelik. Dengan gamblang memberikan catatan, data-data, pandangan tokoh dan masyarakat asli tentang manusia dan kemanusiaannya. Dilengkapi dengan foto-foto, tulisan dalam buku ini membawa kita datang dan menyaksikan langsung peristiwaperistiwa yang terjadi saat catatan ekspedisi dibuat.

Kenyataan, kegembiraan, kepahitan, kutukan atas limpahan alam raya, pergeseran nilai-nilai dan tradisi, serta bumerang dalam berbagai kasus pengambilan kebijakan di masa lalu; tersaji apik di buku ini. Bahasa yang digunakan memang merupakan bahasa jurnalis yang mungkin bagi beberapa orang kurang mudah diikuti.

Baca juga:  I.J. Kasimo untuk Politik Bermartabat

Buku ini sangat kuat membawa kita melihat kembali tanah air kita sendiri. Di sana-sini kita menemukan kondisi yang kontras, teramat paradoks dalam realitanya. Sekarang saat kita membukanya belasan tahun selepas ditulis, kita dapat dengan jernih bertanya apakah ini sekedar album kisah lama, atau masih begitu baru dan nyata? **ES

Judul buku: Ekspedisi Tanah Papua
Penulis: Kompas
Ilustrasi: tokopedia

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.