Press "Enter" to skip to content

Didi Kempot dan Ambyarnya Hati di 2020

Kok, rasanya terlalu banyak duka di tahun ini?

Pertanyaan itu kembali mencuat, menyusul kabar sedih pagi ini (5/5). Legenda campur sari, The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot, tutup usia.

Kita sudah banyak kehilangan di tahun ini. Tanpa perlu dijejer lagi satu-satu. Kepergian maestro kelahiran Surakarta ini semakin menyayat luka.

Belum sampai sebulan lalu, Didi Kempot menggelar konser amal dari rumahnya bekerja sama dengan Kompas TV. Konser yang ditujukan membantu penanganan Covid-19 itu berhasil menghimpun dana hingga Rp 7,6 miliar.

Meski hanya menyapa penggemar lewat televisi, Didi tetaplah menyihir. Lagu-lagu patah hatinya pastilah turut dilantunkan di tiap rumah yang menonton konser amal tadi.

Persis di situlah kekuatan pria yang bernama lahir Dionisius Prasetyo ini. Ia melampaui batasan bahasa, usia, hingga genre musik.

Walaupun syair lagunya kebanyakan berbahasa Jawa, namun penggemarnya lintas daerah, hingga lintas negara. Didi, bahkan memulai show panggungnya di Suriname dan Belanda, sebelum lebih dikenal di Indonesia.

Orang tidak perlu harus paham betul bahasa Jawa untuk bisa menangkap ambyar-nya hati dalam senandung Didi seperti Cidro, Sri Minggat atau Kalung Emas. Lirik-lirik sederhana itu memang bicara apa adanya. Tapi ketulusan si pembawa pesanlah yang menyengat melampaui kata.

Seterkenal apapun Didi, dia tetap bersahaja. Nama Kempot yang disandangnya itu berasal dari akronim kelompok pengamen trotoar.

Itu adalah memori saat ia bersama temannya musisi jalanan, mulai mengamen di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen. Ia tidak malu, justru bangga menyandang nama itu.

Itu pula yang membuatnya serasa tak berjarak dengan penggemar. Di panggung kerap ia mengundang penonton turut menyanyi. Ia pun selalu memotivasi seniman muda untuk terus berkarya.

Baca juga:  Pencalonan Gibran diwarnai Banyak Blunder

Bahkan, menurut pengakuan kerabatnya, belakangan ini Didi begitu sibuk. Rasa kemanusiaan mendorongnya melakukan apa yang dia bisa agar membantu masyarakat yang kena dampak pandemi Covid-19.

Lord Didi atau Lord Ambyar, demikian dia disapa milenial, bisa jadi lelah secara fisik karena semua aktivitas itu. Mungkin itu pula yang menyebabkan ia harus pergi lebih awal dari kita.

Memang sungguh tak enak, hati kita harus ambyar lagi di tahun ini. Kali ini teruntuk si Lord Ambyar itu sendiri… **RS

Foto: Instagram/didikempot_official

Bagikan