Press "Enter" to skip to content

Cry Freedom: Sosok Sang Api Kecil Afrika Selatan

Nelson Mandela sudah sangat terkenal. Tapi mungkin tidak banyak yang mengenal Steve Biko.

Biko merupakan tokoh penentang politik apartheid paling awal di Afrika Selatan. Perjuangannyalah yang menjadi inspirasi bagi Mandela.

Sebegitu inspiratifnya Biko, sampai-sampai Mandela menyebutnya sebagai percik api kecil yang menyulut seluruh Afrika Selatan.

Cry Freedom (1987) merupakan salah satu film yang berusaha mengangkat sosok ini. Berdurasi 130 menit, film ini menampilkan berbagai bentuk perjuangan Steve Biko.

Sosok Biko dimainkan apik oleh Denzel Washington. Denzel sangat baik memperlihatkan kegigihan sang pejuang dalam mempengaruhi masyarakat kulit hitam Afrika Selatan melalui orasi dan sikap hidupnya sehari-hari.

Biko juga diceritakan menjalin hubungan baik dengan wartawan sekaligus fotografer kulit putih Daniel Woods (diperankan dengan sangat baik pula oleh Kevin Kline). Ini demi perjuangannya diketahui dunia internasional.

Skenario, akting, sudut-sudut pengambilan gambar menvisualkan indahnya tanah Afrika adalah menu mewah hasil penyutradaraan hebat, Richard Attenborough. Ini membuat Cry Freedom jadi sangat menarik ditinjau dari berbagai sudut.

Momen paling mencekam adalah saat adegan Biko dipukul hingga luka parah saat akan menghadiri sebuah pertemuan akbar dengan mahasiswa.

Biko meninggal saat dibawa oleh polisi dari Cape Town untuk dipindahkan ke rumah sakit di Pretoria. Dalam bahasa versi rezim, Steve Biko diberitakan mati karena dehidrasi.

Perdamaian dan kesetaraan, kadang harus dibayar mahal. Untuk Biko itu berarti nyawanya. Ia memercik lalu mati. Tapi kemudian sulutan apinya menyebar luas.

Kematian Biko membuka mata dunia internasional. Rezim apartheid telah memperlihatkan kebrutalannya pada penduduk kulit hitam selama puluhan tahun.

Biko memang tidak melihat dan merasakan buah dari perjuangannya, tapi dunia saat ini memperoleh manfaat yang luar biasa dari hidupnya.

Baca juga:  It’s Okay To Be Not Okay: Mengintip Kesehatan Mental dari Drama

Patut diingat Cry Freedom dibuat ketika politik apartheid masih berlaku di Afrika Selatan. Sebagian besar penggarapan bahkan harus dilakukan di Zimbabwe dan Kenya.

Namun uniknya, film ini masih sempat tayang di Afrika Selatan, meski tulisan dan publikasi soal Biko saat itu dilarang.

Menonton Cry Freedom akan menggugah rasa. Ini adalah salah satu film yang memperluas wawasan visual kita akan perdamaian.

Film apik soal sang api kecil yang kemudian luas membakar. **TJR

Foto: Amazon

Bagikan