Buku Dunia Sophie: Dunia Kemanusiaan Manusia

Novel Dunia Sophie mengajak kita menelusuri perjalanan sejarah filsafat selama tiga milenium, melalui kisah seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahun bernama Sophie Amundsend.

Sophie, seperti juga diri kita, memulai ‘petualangannya’ dengan mempertanyakan banyak hal terkait keberadaan dirinya dan alam semesta.

Ini adalah gambaran dunia kita. Dunia di mana pertanyaan-pertanyaan masa kanak-kanak mengalir sedemikian rupa dan belakangan enggan menggubrisnya.

Dalam karya Jostein Gaarder ini, Sophie bertemu dengan seorang misterius – yang kemudian diketahui bernama Alberto Knox. Mereka membahas pergulatan pemikiran para filosof.

Bersama Alberto Knox, Sophie secara bertahap menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan hakiki dalam hidup yang dituangkan Gaarder dengan sangat menarik, ringkas, tajam, sederhana, tanpa menghilangkan inti pemikiran para filosof.

Perjalanan ini dimulai dari kisah soal era mitologi hingga abad ke-6 sebelum Masehi. Yaitu kemunculan cara pikir yang sama sekali baru, bebas dari beban mitologis, berkembang di Yunani. Mulai dari era para filsuf alam hingga era Sokrates lantas memasuki pemikiran Eropa modern.

loading…


Tak hanya bersentuhan dengan mereka, Gaarder juga menyajikan konteks yang mempengaruhi para filsuf tersebut. Seperti situasi Athena, Helenisme, Abad Pertengahan, Renaisans, Zaman Barok, Zaman Pencerahan, Romantisme, dan kaitannya dengan situasi atau zaman kita sendiri saat ini.

Seluruhnya merupakan warna-warni dalam perkembangan bahkan “lompatan-lompatan” cara pikir manusia dengan segala dampaknya, baik bagi peradaban manusia itu sendiri maupun bagi dunia. Baik untuk zamannya maupun terhadap konteks kini dan masa depan.

Memang ada satu dua kekurangan. Mungkin karena Gaarder tumbuh dan dipengaruhi dunia Eropa, maka pemikiran para filsuf dari abad keemasan kekhalifaan Islam, demikian pula pemikiran filosofis India dan Tiongkok tidak terlalu disinggung.

Baca juga:  Bilangan Fu: Kritik Bagi Pemuja Monoteisme

Tapi setidaknya, novel filsafat karya Gaarder ini layak dijadikan bacaan bagi kita yang ingin mengenal dunia filsafat.

Kita akan jarang mengernyitkan dahi, bahkan malah membuat kita tersenyum. Ada bagian-bagian yang memungkinkan kita untuk memikirkan ulang segala hal yang sebelumnya kita anggap baku atau tak bisa digugat.

Dengan beragam pemikiran para filsuf – seiring dengan konteks sejarah peradaban manusia – kita “lebih bebas” dan ‘dimudahkan’ untuk menilai pilihan-pilihan hidup. Seperti kata-kata Gothe yang dikutip di awal novel, ini ditujukan agar kita dapat mengambil pelajaran dari 3.000 tahun masa lalu.

Gaarder berhasil membuat kajian filsafat menjadi enak diikuti. Pengalamannya sebagai seorang pengajar filsafat tingkat sekolah menengah di Norwegia, nampaknya memberi andil sehingga novel ini enak dicerna. **DW

Ilustrasi: bigsta

loading…


About FOKAL

[Hoax] Jangan bilang siapa-siapa.