Bakar Batu dan Perdamaian ala Masyarakat Papua

0
22

Banyak hal yang bisa memperkaya wawasan saat kita berbicara lingkup Papua, dari keberagaman suku, budaya hingga cara menangani konflik sosial.

Papua tidak selalu aman-aman saja, bentrok antar suku kerap terjadi. Di Kabupaten Mimika, konflik sering berwujud dalam perang antar suku-suku asli Papua di daerah tersebut.

Perang antar suku Dani, Amungme, Damal, Moni, serta suku lainnya merupakan puncak dari berbagai persoalan sosial di wilayah sekitar Tembagapura itu.

Selama ini, upaya penanganan perang suku di daerah Mimika lebih pada pendekatan secara adat. Nilai-nilai kultural menjadi dasar penyelesaian konflik.

Perang suku akan berhenti saat pihak yang bertikai melangsungkan upacara bakar batu. Sebagai bagian dari ritual perdamaian, bakar batu dilakukan beberapa kali, dengan makna dan tujuan tersendiri.

Pertama, bakar batu bagi para pokok perang, yaitu keluarga korban. Dalam bahasa Dani ini disebut jigin amia banggwi, sedangkan dalam bahasa Amungme disebut wem kogom urabin.

Bakar batu ini sangat sakral, karena hanya boleh diikuti para pokok perang dan kepala perang serta tokoh kelompok yang bertikai.

Disini, para keluarga korban saling mengungkapkan isi hati diiringi tangisan, meratapi keluarga yang tewas. Alat perang yang digunakan seperti anak panah, tombak, dibersihkan dan kemudian diikat, selanjutnya disimpan di onai terlarang, yaitu rumah adat khusus bagi laki-laki.

Upacara ditandai ucapan syukur dengan mengorbankan beberapa ekor babi yang dibakar di hutan untuk roh leluhur.

Kedua, bakar batu laki-laki dan bakar batu perempuan. Bakar batu laki-laki hanya diikuti oleh para lelaki, yang ikut berperang. Anak-anak dan perempuan tidak ikut juga tidak boleh makan daging yang dibakar.

Dalam bahasa Dani ini disebut ap inanggo, dan Amungme, me nobe. Disini orang mendata dan mencocokkan pihak korban dan pihak musuh. Hal ini juga kemudian berlaku juga untuk bakar batu perempuan.

Baca juga:  Tetap Bisa Olahraga Walau Cidera

Selanjutnya adalah bakar batu makan bersama dilanjutkan dengan upacara utang darah atau pembayaran ganti rugi (Dani ‘yee wam’; Amungme ‘me aoo’). Ganti rugi ini biasanya dengan uang atau kulit bia (siput), dengan beberapa tingkatan.

Yang terakhir adalah upacara yang disebut oleh suku Dani sebagai wim anep dan oleh suku Amungme disebut wem ningging. Ini menandai akhir dari perang. Disini, semua yang terlibat perang, duduk makan bersama.

Setelah upacara ini, perjumpaan dengan lawan berubah menjadi perjumpaan dengan teman lama. Semua tertawa saling mengenang tingkah masing-masing saat berperang.

Perdamaian baru dianggap sah setelah melewati semua tahap bakar batu ini.

Sumber: Wawancara Vic. Hans Wakerkwa S.Th. M.Si