Saat menggunakan masker cukup lama, beberapa orang mengeluhkan gejala seperti sesak, kurang konsentrasi, pandangan kabur serta rasa pusing.

Hal ini mungkin dikaitkan dengan apa yang disebut dalam dunia medis sebagai hypercapnia, yaitu tingginya kadar karbon dioksida dalam darah.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar informasi seperti itu di media sosial. Bahkan tak jarang beberapa orang mendukungnya dengan testimoni pribadi.

Tak jarang yang menyebut efek lebih parah semisal gangguan halusinasi, depresi atau bahkan gagal nafas.

Namun, pengaitan antara memakai masker dengan hypercapnia nampaknya adalah klaim terburu-buru.

Pakar penyakit menular University of Chicago, Dr. Emily Landon, meyakini bahwa penggunaan masker tidak akan menyebabkan hypercapnia.

“Masker itu dirancang untuk menyaring udara, bukan menahan seluruhnya,” ungkap Dr. Landon sebagaimana dikutip CBS News, Senin (11/5).

Menurutnya, peningkatan kadar karbon dioksida akibat penggunaan masker kain atau masker sekali pakai, apalagi jika hanya beberapa jam dalam sehari, tidak signifikan untuk menyebabkan hypercapnia.

“Rasa sesak atau kesulitan bernafas karena penggunaan masker umumnya disebabkan oleh faktor ketidaknyamanan atau penggunaan masker yang sudah kotor,” lanjutnya.

Karenanya, Dr. Landon menyarankan pencucian yang rutin untuk masker kain. Atau jika menggunakan masker sekali pakai, sebaiknya hanya dipakai sekali untuk masa pemakaian maksimal sehari.

Hal ini mungkin berbeda dengan para pekerja medis yang cukup intens memakai masker serta menggunakan masker yang cukup rapat.

Studi tahun 2006 saat penangan kasus SARS, dimana para pekerja medis menggunakan masker N95 selama berjam-jam menunjukkan munculnya gejala seperti rasa sesak dan pusing.

Meski demikian, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa hypercapnia yang dialami masih tergolong ringan dan segera pulih begitu mereka beristirahat.

Baca juga:  Sudah Sejuta Lebih Pasien Covid-19 Sembuh

Hypercapnia dalam skala sedang lazim terjadi pada mereka yang mengalami gangguan pernafasan saat tidur atau masalah pertukaran gas dalam tubuh. Biasanya disebabkan oleh obesitas, adanya gangguan pada syaraf dan otot atau faktor genetis tertentu.

Kondisi seperti terlalu lama berada di ruang sempit atau lingkungan yang kurang kadar oksigen, juga bisa menyebabkan hypercapnia.

Namun, tidak perlu khawatir jika kita hanya memakai masker dalam waktu singkat. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.