Tahan Hajat 8 Jam: Kisah Dokter di RSD Wisma Atlet

0
14
dokter

“Beberapa rekan ada yang mengenakan popok dewasa. Ini demi menghemat APD. Bukannya tidak boleh makan, minum atau ke belakang. Kita pakai mindset bahwa kita nggak tahu sampai kapan wabah ini extent. Jadi itu komitmen kita, stok APD yang ada harus dipakai sehemat mungkin.”

dr. Debryna Dewi dengan tenang menceritakan pengalamannya saat bertugas, terutama terkait penggunaan Alat Perlengkapan Diri (APD) dan bagaimana relawan dokter mengatur ritme hidup keseharian selama bertugas.

Dokter berusia 27 tahun ini adalah salah satu relawan IDI yang bekerja di zona merah RSD Wisma Atlet Kemayoran. Ia bertugas sejak awal Wisma Atlet dioperasikan sebagai rumah sakit darurat penanganan Covid-19 bulan lalu (23/3).

Tugas mereka dibagi ke dalam tiga shift per hari. Artinya mereka bekerja delapan jam. Bagi mereka yang bekerja di zona merah, itu berarti mereka harus menyediakan waktu lebih banyak untuk persiapan mengenakan dan melepaskan APD.

“Memang agak repot. Karena melepas harus ada proses dekontaminasi. Harus mandi. Jadi memang sebaiknya sekali dipakai, ya lanjut terus sampai selesai shift,” cerita dr. Debryna.

Setiap relawan zona merah di RSD Wisma Atlet akan bekerja selama 14 hari. Lalu menjalani karantina 14 hari lagi, sebelum melanjutkan atau menyelesaikan tugasnya. Selama waktu itu mereka harus tetap berada di dalam wisma. dr. Debryna telah bertugas selama dua pekan dan kini tengah menjalani masa karantina.

Biarpun sangat melelahkan, dokter lulusan UK Maranatha Bandung ini mengaku tetap bisa menikmati tugasnya. “Setiap orang ada porsi masing-masing. Karena saya dokter, saya meyakini harus mengerjakan hal ini. Banyak juga relawan non-medis yang sama berjuang. Semuanya sangat membantu kerja kita memerangi wabah ini,” tuturnya.

Baca juga:  Ojek Jakarta Sudah Boleh Mengangkut Penumpang

Bagaimana agar tidak lelah secara mental? dr. Debryna mengaku ia dan rekannya berkomitmen untuk menyediakan waktu, dimana mereka sama sekali tidak membicarakan virus corona. Hal sederhana seperti membaca, menonton dan menghubungi kerabat juga menjadi hiburan.

“Kemarin-kemarin sampai nggak pernah lihat matahari terbit atau terbenam. Sekarang dari kamar isolasi bisa lihat. Itu saja sudah senang sekali. Yang penting itu kan mentalnya nggak lelah. Biar niat baiknya bisa terus jalan,” tutur dr. Debryna.

Beban kerja ini memang belum akan berakhir. Sampai hari ini (18/4) RSD Wisma Atlet menampung 707 pasien, dengan 553 orang positif terinfeksi Covid-19. Sebelumnya, sudah 192 pasien dari rumah sakit ini yang dinyatakan sembuh dan mulai menjalani masa isolasi mandiri. **RS

Sumber: VoA Indonesia, CNN Indonesia
Foto: Unsplash