Press "Enter" to skip to content

Satu Malam Musim Panas di Nara (3)

Letak beberapa objek wisata di Nara berdekatan. Menuju kuil Todaiji dari Kasuga Taisha, bisa melewati jalan utama atau lewat jalan menembus hutan kota.

Kami mengambil jalur lewat hutan, ingin melihat pemandangan berbeda. Benar saja, sepanjang jalan kami melewati beberapa kuil kecil, rumah penduduk sekaligus toko oleh-oleh. Ada juga warung makan kecil sekalian tempat istirahat.

Berjalan kaki sekitar 15 menit, kami tiba di lapangan terbuka, belakang kuil Todaiji.  Di lapangan ini ada satu bukit buatan yang dikelilingi pagar, berisi banyak rusa. Disini, banyak orang berfoto. Tempatnya memang ideal, tertata rapi.

Berjalan sebentar, kami sampai di kuil Nigatsudo. Kuil ini bagian dari Todaiji. Hall kuil dapat dicapai dengan menaiki anak tangga yang cukup tinggi. Kita bisa melihat view kota Nara. Jika sudah sore, biasanya lentera akan dinyalakan. Cantik sekali!

Todaiji merupakan kuil Buddha, struktur dan warna bangunannya berbeda dengan Kasuga Taisha yang merupakan kuil Shinto. Begitu mendekat, kita seolah baru tersadar betapa besarnya bangunan ini. Seluruhnya terbuat dari kayu, bahkan pernah dinobatkan sebagai bangunan dengan struktur kayu terbesar di dunia.

Hall utama kuil disebut Daibutsuden, yang artinya aula Daibutsu (Buddha Besar), karena disini terdapat patung Buddha raksasa terbuat dari perunggu setinggi 15 meter. Ini merupakan salah satu patung Buddha terbesar di Jepang.

Puas berkeliling area kuil, kami kembali ke penginapan. Saat itulah, saya menyadari sepertinya ada persiapan suatu acara. Di jalan ada orang menyusun lentera kertas. Di minimarket, juga ada poster, yang walaupun saya tidak tahu artinya, tapi tanggal dan bulannya menandakan tanggal hari itu.

Saya pun bertanya ke beberapa orang, ternyata hari itu bertepatan dengan festival cahaya di Nara (Nara Tokae). Musim panas di Jepang akan diisi matsuri, festival musim panas. Masing-masing prefektur atau kota di Jepang memiliki festival khasnya sendiri. Saya beruntung sekali bisa ikut, karena di kota lain yang kami kunjungi, jadwal matsurinya tidak bisa kami ikuti.

Di Nara Tokae orang-orang menaruh lilin dalam lentera kertas dan diletakkan di seluruh penjuru kota. Di jalan-jalan kecil, jalan utama, halaman kuil, depan rumah, sekeliling kolam dan taman. Bahkan ada beberapa penduduk yang mempersilahkan pengunjung memasuki rumahnya, melihat susunan lentera mereka.

Festival berlangsung pukul 19.00-20.30. Orang mengenakan yukata, pakaian tradisional musim panas. Seluruh kota jadi begitu cantik dengan suasana temaram lentera.

Menjadi orang asing di kota yang baru didatangi, namun disambut temaram cahaya, sungguh jadi malam yang tak terlupakan buat saya… Nara sungguh cantik! **HW