Satu Malam Musim Panas di Nara (2)

0
16

Nara, siang hari musim panas, saya dan sepupu bersepeda. Matahari sebenarnya tidak terik. Tapi, karena angin tidak bertiup, rasanya sangat panas. Kontur kota pun berbukit, bersepeda jadi lebih sulit. Untungnya, tempat-tempat yang kami kunjungi tidak jauh.

Awalnya kami mampir ke restoran unagi (belut goreng) yang direkomendasikan pengurus penginapan. Ternyata siang hari restoran itu masih tutup. Jadilah kami ke wilayah shopping arcade Higashimuki Shotengai.

Tempatnya mirip Pasar Baru Jakarta. Lorong dengan toko bermacam barang. Kami mencoba satu rumah makan yang letaknya cukup tersembunyi. Restoran ini ramai dikunjungi penduduk lokal. Siang hari mereka hanya menyediakan dua set menu.

Saya memesan saba shioyaki set menu, ikan makarel panggang, disajikan dengan tumisan hijiki (rumput laut). Rasanya sangat enak. Sejauh ini, itu adalah makarel panggang terenak yang saya makan.

Setelah makan, kami menuju Taman Nara. Di Jepang memang banyak sekali taman yang dikelola pemerintah dan taman ini adalah salah satu yang terkenal. Daya tarik utamanya pada rusa yang berkeliaran bebas.

Kami membeli shika senbei, biskuit khusus makanan rusa. Saat memberi makan kita perlu mengirangira rusa mana yang tidak agresif. Biasanya rusa dewasa, yang tanduknya sudah panjang, tidak terlalu agresif dan mau memakan biksuit dari tangan kita.

Uniknya beberapa rusa sudah terlatih memberi salam. Yang memberi makan harus menunduk dan mengucapkan ‘konnichiwa’. Setelah itu rusa akan ikut menunduk, baru kita berikan biskuitnya.

Puas bermain dengan rusa, kami menuju Kasuga Taisha, kuil Shinto paling penting di Nara. Ada sejak kota Nara dibangun dan didedikasikan untuk roh pelindung kota. Ini juga kuil pelindung klan Fujiwara, keluarga yang mendominasi Jepang pada periode Nara dan Heian (668-1185 M).

Baca juga:  Perlahan Bangkit dari Corona, Jepang Menang Tanpa PSBB

Menuju kuil, kami melewati jalan setapak yang rindang. Di sekeliling jalan banyak lentera dari batu. Kasuga Taisha memang terkenal dengan lenteranya. Ada ribuan lentera di sekeliling kuil. Lentera hanya dinyalakan dua kali setahun, saat festival cahaya, awal Februari dan pertengahan Agustus.

Masuk halaman kuil tidak dikenakan biaya, tapi jika ke bagian dalam, dikenai tarif 500 yen. Di dalam kuil ada taman berisi bunga wisteria, lambang kebesaran klan Fujiwara. Beberapa kuil kecil tersebar di area Kasuga Taisha. Ada pula ruang gelap berisi replika lentera batu. Cahayanya hanya berasal dari pantulan lentera di cermin.

Kuil ini sangat layak dikunjungi, meski Anda bukan penyuka sejarah namun hanya ingin merasakan keindahannya… **HW