Press "Enter" to skip to content

Mengenang Kejayaan Sinetron Indonesia

Sinetron adalah istilah khas Indonesia. Akronim dari sinema elektronik, ia berarti film yang khusus dibuat untuk media elektronik, yaitu televisi. Karena lebih mudah ketimbang bioskop, penayangannya bisa dibuat berseri dengan jadwal tertentu.

Di Indonesia, cikal bakalnya ada sejak 1980-an. Kita mengenal Losmen, ACI atau Keluarga Rahmat. Ditayangkan TVRI tanpa iklan, seri-seri ini dikemas sederhana untuk ditonton sekeluarga. Ceritanya pun amat keseharian.

Cerita dengan format keluarga itu tetap berlanjut di era 1990-an awal, namun dengan penggarapan lebih segar. Terutama setelah kehadiran RCTI dan beberapa televisi swasta lain. Sinetron seperti Hati Seluas Samudera dan Si Doel Anak Sekolahan adalah wakil paling terkenal di periode ini.

Format sinetron keluarga masih tetap ada di paruh kedua 1990-an. Kita tentu ingat Keluarga Cemara dan Satu Kakak Tujuh Ponakan, produksi 1996 dengan mengangkat kisah serupa.

Periode ini juga ditandai makin terpuruknya industri film layar lebar, membuat sinetron menjamur. Tema lika-liku cerita cinta dewasa pun bermunculan. Bella Vista, Noktah Merah Perkawinan, Badai Pasti Berlalu, atau Janjiku adalah model yang kemudian jadi arus utama sinetron Indonesia.

Tak hanya percintaan, tema sinetron di periode ini sangat beragam. Sejak 1995 ada sinetron remaja seperti Lupus, ada pula genre komedi seperti Pondok Pak Djon atau Flamboyan-108.

Seri kolosal Singgasana Brama Kumbara, Kaca Benggala, Saur Sepuh dan Tutur Tinular atau laga modern seperti Deru Debu dan Jalan Makin Membara menjadi lawan tayang untuk seri-seri laga Mandarin yang populer saat itu.

Belakangan, muncul pula genre fantasi seperti Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul hingga Panji Manusia Milenium serta Gerhana di penghujung 1990-an.

Baca juga:  Streaming Film Bajakan Jauh Berkurang di Indonesia

Era ini boleh dikatakan masa kejayaan sinetron Indonesia. Paling tidak sampai 2005, ragam genre tadi menguasai jam tayang utama televisi. Sayangnya, perlahan kualitas mengalami penurunan. Beberapa sinetron memperpanjang cerita demi mengejar rating yang kadung tinggi. Contoh terkenal adalah Tersanjung, yang bertahan tujuh musim (1998-2005).

Tak hanya panjang, waktu tayang pun nyaris setiap hari. Liontin (2005) adalah pelopor sinetron yang tayang Senin sampai Jumat, sebelum yang lebih fenomenal seperti Cinta Fitri (2007). Sejak itu, episode sinetron bukan lagi puluhan, namun membengkak hingga ratusan bahkan ribuan.

Cinta Fitri ditutup dengan 1.002 episode. Generasi terbaru seperti Tukang Bubur Naik Haji atau Tukang Ojek Pangkalan bahkan melewati 2.000 episode. Kenyataan ini mungkin tak terbayangkan para penggagas sinetron dulu, bahkan oleh pelaku kejayaan sinetron di era 1995-2005. **RS

Foto: Youtube