Mengenal Sosok Sulianti Saroso

0
13

Belakangan saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, kita kerap mendengar nama Sulianti Saroso. Sebagaimana diketahui, Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso memang merupakan tempat dimana tiga pasien pertama Covid-19 dirawat sampai sembuh. Tapi, siapa Sulianti Saroso?

Sulianti lahir pada 10 Mei 1917. Ia akrab disapa Syuul atau Julie. Ayahnya, Moehammad Sulaiman, adalah rekan seperjuangan dr. Soetomo, baik di dunia kedokteran maupun organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo.

Mengikuti jejak sang ayah, Sulianti juga menghidupi dunia medis. Ia menempuh pendidikan di Gymnasium Bandung lalu studi kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (GHS), hingga lulus pada 1942. Ia lalu bekerja di Centrale Burger Ziekenhuis (sekarang R.S Cipto Mangunkusumo) dan selama masa revolusi di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Di zamannya, dokter perempuan memang sangat jarang. Namun, bukan sekedar karir kedokteran yang membuat nama Sulianti menonjol. Selama pergolakan mempertahankan kemerdekaan, perempuan ini turut berjuang membela Republik.

Sulianti mempelopori pengiriman makanan dan obat-batan ke berbagai front perjuangan di sekitar Yogyakarta. Ia juga memimpin Wanita Pembantu Perjuangan (WAPP) membuka dapur umum, menyediakan pakaian dan perawatan. Dalam catatan wartawan senior Rosihan Anwar, Sulianti disebut pernah ditawan dua bulan oleh militer Belanda karena perjuangannya ini.

Selepas revolusi kemerdekaan, Sulianti dipercaya sejumlah jabatan di bidang kesehatan, baik di dalam negeri maupun forum internasional.

Prestasinya dalam meningkatkan kesehatan nasional setidaknya dicatat dalam dua transisi penting. Pertama, ia dianggap sukses dalam mendorong imunisasi dan pencegahan pandemi cacar di Indonesia sepanjang 1950-1960-an. Yang kedua, ia merupakan pelopor untuk program perencanaan kelahiran dan keluarga berencana, meski awalnya ide ini banyak mengalami tentangan.

Di forum internasional Sulianti sangat populer. Sejak memperoleh beasiswa dari UNICEF untuk belajar kesehatan masyarakat, ia juga dipercaya sejumlah jabatan. Istri dari ekonom Saroso Wirodiharjo ini pernah menjadi anggota badan eksekutif WHO dan puncaknya menjadi presiden World Health Assembly pada 1969-1974.

Baca juga:  Pandemi Covid-19 Global Masih Memburuk

Sederet capaian itu tentu tak boleh dilupakan. Perempuan yang wafat pada 29 April 1991 ini adalah teladan bagaimana insan kesehatan bisa berprestasi sekaligus berdedikasi bagi kesehatan negerinya. Itu dikerjakan di tengah keterbatasan, bahkan penuh tekanan. Teladan ini pula yang kita butuhkan sekaligus pantas kita sematkan bagi para pekerja medis saat ini yang gigih melawan pandemi. **RS

Foto: Dokumentasi Gemilang 25 Tahun RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso