Ketegangan Baru pada Konflik AS-Iran

0
11

Minggu lalu (22/4), presiden Amerika Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut-nya untuk tidak segan-segan menghancurkan setiap kapal Iran yang dianggap melecehkan kedigdayaan militer Amerika Serikat (AS).

Pernyataan keras itu muncul setelah insiden pada 15 April 2020. Dimana sebelas kapal kecil Garda Revolusi Iran (IGRC) diberitakan mengepung kapal angkatan laut dan coast guard Amerika di perairan utara Teluk Persia. Insiden itu terjadi ketika kapal dari dua matra militer AS tadi menggelar latihan bersama.

Dalam tanggapann resminya petinggi IGRC menyebut pernyataan AS tersebut sebagai keterangan “versi Holywood.” Menurut versi militer Iran, itu bukanlah insiden penembakan atau pengepungan. Mereka hanya sedang meningkatkan intensitas patroli setelah sebelumnya angkatan laut AS sempat menghalangi kapal Iran pada awal April ini.

Tak cukup sampai disitu, pada peringatan Hari Nasional Teluk Persia, Rabu (29/4), presiden Iran, Hassan Raouhani menyatakan agar AS tidak merencanakan perlawanan ke Iran setiap hari. Secara khusus ia pun menekankan kedaulatan Iran atas wilayah lautnya.

“Mereka harus ingat bahwa nama perairan itu adalah Teluk Persia. Dengan itu mereka harus pula memahami situasinya, soal siapa yang telah melindungi jalur perairan ini selama ribuan tahun,” kata Rouhani dalam pidatonya.

Peringatan Hari Nasional Teluk Persia tahun ini tampaknya dipakai Iran untuk kembali menegaskan kedaulatannya. Diyakini, Raouhani sengaja menunda komentar resminya atas insiden di teluk kemarin untuk lebih tepat disampaikan pada momen peringatan ini.

Hari Teluk Persia telah menjadi agenda negara Iran sejak 2004, sebagai reaksi atas usulan negara-negara tetangganya yang mengusulkan perubahan nama teluk tersebut menjadi Teluk Arab.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak 2018, saat Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian multinasional pembekukan program nuklir Iran dan kembali menerapkan sanksi ekonomi pada negara teluk ini.

Baca juga:  Iuran BPJS Turun, Bisa Pindah Kelas Lagi?

Konfrontasi terparah muncul pada Januari tahun ini saat AS melancarkan serangan drone yang menewaskan salah seorang pemimpin militer IGRC, Jenderal Qasem Soleimani. Serangan itu kemudian dibalas Iran lewat penembakan rudal ke beberapa pangkalan militer AS di Irak. Untungnya, selepas itu Trump tidak lagi memerintahkan serangan balasan.

Namun, menilik persitegangan baru seperti sekarang bukan tidak mungkin ada konflik babak baru antar dua negara ini. **RS

Foto: Pixabay