Pembatasan fisik yang dilakukan demi meredam pandemi Covid-19, mengharuskan kita bekerja, belajar serta mengadakan bentuk pertemuan lain dari rumah lewat layar elektronik. Sangat mungkin, frekuensi dan durasi kita menatap layar jauh lebih intens dari sebelumnya.

Kondisi ini akan berpengaruh pada kesehatan mata. Dunia medis mengenal apa yang disebut sebagai computer vision syndrome (CVS), yaitu gangguan mata akibat penggunaan layar berbasis komputer.

Gejala paling sering berupa mata kering, karena kurangnya refleks berkedip dan mata lelah karena terpapar pencahayaan. CVS juga bisa berupa kaburnya penglihatan dan rasa pusing.

Umumnya gejala ini akan hilang saat kita berhenti menggunakan perangkat elektronik. Namun tak jarang, gejala ini tetap bertahan sehingga mempengaruhi kualitas penglihatan. Kita perlu melakukan langkah pencegahan berikut demi menguranginya.

Jangan lupa break
Perlu disiplin membatasi waktu melihat layar. Baiknya tidak lebih dari 8 jam sehari. Pun harus memberi jeda, maksimal setiap 2 jam kita menjauhkan mata dari layar. Bagi anak-anak, mesti lebih ketat lagi, waktu maksimal yang sehat menatap layar hanya 2-4 jam sehari. Itu pun tidak boleh terus menerus, harus diberi jeda minimal tiap jam.

Beberapa ahli menyarankan rumusan 20-20-20. Artinya setiap 20 menit kita mengalihkan pandangan dari layar, selama minimal 20 detik, ke arah obyek yang jauhnya sekitar 20 meter. Jauh lebih baik jika obyek yang dilihat berwarna segar seperti hijaunya daun atau langit biru yang teduh.

Atur jarak pandang dan pencahayaan
Yang juga penting diupayakan adalah menjaga jarak pandang yang sehat. Yakni minimal 30 cm ketika menggunakan ponsel dan 50 cm ketiga menggunakan layar komputer standar. Untuk layar yang lebih besar, perlu jarak yang lebih jauh.

Baca juga:  Kuliah Luar Negeri bukan Sekedar Jalan-Jalan

Posisi layar sebisa mungkin sejajar dengan mata. Melihat ponsel sambil tiduran, atau memasang pencahayaan yang terlalu terang akan memaksa mata bekerja lebih keras. Ada baiknya, menggunakan filter pelindung, baik software maupun hardware, sehingga cahaya lebih natural menerpa mata kita.

Koreksi refraksi
Jika Anda memiliki faktor koreksi pada lensa mata – plus, minus maupun silindris – usahakanlah tetap menggunakan kacamata atau lensa kontak saat menatap layar. Melihat layar tanpa koreksi refraksi akan memperparah kondisi, sehingga kemungkinan perlu koreksi refraksi yang baru.

Selain tiga hal tadi, penting pula untuk mencukupi nutrisi dan waktu istirahat dan aktivitas bergerak. Hal ini baik demi memulihkan stres mata. Juga perlu menjauhi sumber iritasi seperti asap rokok, debu, atau kebiasaan mengucek mata. **RS

Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.