Hong Kong Menang: Terbukti Kita Harus Pakai Masker

0
15
People walk past a protest banner during a Lunar New Year fair organized by pro-democracy district councilors on Centre Street in the Sai Ying Pun district of Hong Kong, China, on Saturday, Jan. 18, 2020. The Lunar New Year, when spending traditionally peaks in Hong Kong amid a flood of vacationing Chinese mainlanders, will likely not provide its usual boost after months of fiery demonstrations that have driven tourists away. Photographer: Justin Chin/Bloomberg via Getty Images

Awal Maret lalu, Cheryl Man pelajar dan periset asal Hong Kong, sempat punya pengalaman buruk. Saat ia berjalan menuju kampusnya di New York, sekelompok anak muda dengan sengaja batuk mengarah padanya. Itu semata-mata karena Cheryl mengenakan masker menutup mulut dan hidungnya.

“Masker hanya bagi mereka yang sakit,” demikian dia disoraki. Di laboratorium risetnya, perempuan dua puluh tahun ini juga mengalami nyinyiran yang sama. Umumnya koleganya mengira ia sedang sakit.

Padahal, Cheryl hanya mengikuti saran para ahli kesehatan di tempat kelahirannya. Sejak Februari lalu, hampir semua masyarakat Hong Kong sudah mengenakan masker saat berada di tempat publik. Kebiasaan yang sama juga diterapkan di Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Thailand.

“Ini bukan melulu soal saya sakit atau tidak. Tapi tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Kalau saya terinfeksi tanpa menunjukkan gejala, setidaknya saya bisa menghambat penularan ke orang lain,” papar Cheryl.

Pemerintah banyak negara sempat menolak keharusan orang sehat memakai masker. Selain karena tidak cukup melindungi seseorang dari paparan Covid-19, juga ada kekhawatiran stok masker akan diborong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Umumnya banyak negara Barat hanya membuat anjuran memakai masker bagi mereka yang sakit dan para petugas medis.

Namun sejumlah riset terbaru menunjukkan penggunaan masker punya peran yang besar dalam mencegah penularan Covid-19. WHO lewat publikasi Jumat (3/4) memaparkan karena banyaknya orang yang terinfeksi penyakit ini tanpa menunjukkan gejala, maka mengenakan masker di tempat publik menjadi keharusan.

Tujuannya bukan sekedar melindungi diri, tapi lebih pada pencegahan. Agar cairan dari hidung dan mulut kita – yang bisa saja sudah mengandung virus tanpa kita ketahui – tidak mengenai orang lain.

Baca juga:  Glenn Fredly dan Kado Terakhir kala Pandemi

Tapi, jangan buru-buru khawatir harus memborong masker medis atau masker N-95. Barang itu sebaiknya hanya dipakai petugas medis. Sekedar masker kain sudah lebih dari cukup untuk mengurangi tersebarnya cairan hidung dan mulut.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito hari Minggu lalu (5/4) menganjurkan masyarakat Indonesia menggunakan masker kain.

Menurutnya, masker kain yang dibuat beberapa lapis dapat mencegah kita dari paparan, namun lebih penting lagi mencegah droplet dari kita keluar. “Masker perlu dicuci rutin, terutama bila mulai basah karena cairan hidung dan mulut. Masker juga harus dipasang dengan tangan yang bersih,” sambungnya.

Kalau seperti ini, nampaknya Hong Kong dan kawasan Asia Timur lain sudah memberi contoh yang patut ditiru. Terbukti kita memang harus pakai masker. **RS

Sumber: edition.cnn.com, cnbcindonesia.com
Foto:fortune