gugus tugas

Pemerintah Indonesia kian meningkatkan kapasitas dalam memeriksa spesimen pasien Covid-19. Dalam dua hari terakhir, terjadi penambahan signifikan jumlah laboratorium yang memeriksa spesimen. Per hari ini Rabu (29/4) diumumkan sudah ada 89 laboratorium yang aktif melakukan pemeriksaan.

Jumlah ini meningkat cepat, jika dibandingkan pada Senin lalu (27/9) baru ada 46 lab yang aktif. Penambahan yang hampir dua kali lipat itu merupakan kerja lintas instansi untuk mempercepat berlalunya wabah ini.

“Ada 48 lab rumah sakit dan 15 lab perguruan tinggi. Kemudian 18 lab di jaringan Kemenkes, 5 dari jaring laboratorium kesehatan daerah, dan ada 3 lab daerah yang merupakan balai veteriner direktorat peternakan,” papar juru bicara penanganan Covid-19, Achmad Yurianto.

Dalam konferensi pers virtual di  di Graha BNPB, Jakarta Timur hari ini, Yurianto juga menyebutkan sampai saat ini telah dilakukan uji sebanyak 86.985 spesimen, dari 67.784 orang. Kapasitas tiap lab ini akan terus ditingkatkan, serta dimaksimalkan perannya, demi efektivitas kerja penanggulangan Covid-19.

Kementertian kesehatan sebelumnya telah mengaktifkan sebagian besar laboratorium miliknya di berbagai provinsi untuk membantu pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), pengujian yang memerlukan akurasi lebih tinggi. Setidaknya, sudah lebih dari 70 laboratorium yang telah diaktifkan dan tersebar di 186 kabupaten/kota.

Pemeriksaan yang lebih massif memang akan membantu pencegahan dan penanggulangan pandemi. Sebab kelompok yang terinfeksi dan pola penularannya bisa dipetakan dengan lebih baik. Demikian pula, isolasi yang lebih awal dapat dilakukan demi mencegah penularan lebih jauh.

Kesuksesan penanggulangan Covid-19 di Taiwan, Korea Selatan dan Selandia Baru, salah satunya disebabkan cepatnya pengadaan tes yang massif. Tidak hanya pada kluster yang dicurigai terinfeksi namun dapat pula menyasar setiap warga secara acak demi memastikan wabah mulai mereda.

Baca juga:  CSIS Luncurkan Buku Indonesia dan Covid-19

WHO telah menetapkan tingkat persentase di bawah 9% dalam tes yang dilakukan secara random adalah angka aman untuk menyatakan pandemi Covid-19 sudah mulai mereda. Inilah yang terjadi di Taiwan dan Selandia Baru dalam beberapa waktu belakangan.

Indonesia memang masih lebih memprioritaskan tes pada mereka yang punya potensi terpapar Covid-19. Biasanya pada mereka yang punya riwayat interaksi dengan orang yang terinfeksi atau melakukan perjalanan dari daerah yang tergolong zona merah.

Namun, seiring jumlah lab dan fasilitas tes yang makin tersedia, besar harapan agar tes juga dapat dilakukan dengan lebih massif, demi memastikan wabah ini semakin mereda. **RS

Sumber: Konpres BNPB

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.