Felicia, adalah seorang pelapak online. Di tengah pembatasan sosial karena pandemi Covid-19 saat ini, ia boleh tetap bersyukur omset jualannya tidak terlalu terpengaruh, malah agak meningkat. Justru disini ia menunjukkan solidaritas sebagai seorang manusia yang tahu berbagi.

Selama momen pandemi ini, Felicia sengaja menyisihkan sebagian keuntungan untuk memberi bantuan bahan pokok pada para pengemudi yang mengantarkan barang jualannya. Ia tahu para pengemudi online ini mengalami penurunan penghasilan yang sangat signifikan.

Cerita Felicia jelas bukan satu-satunya. Di tengah seliweran berita negatif tentang pandemi Covid19, ternyata kita tetap bisa mencatat sejumlah hal baik yang dilakukan, baik yang terlihat besar maupun yang amat sederhana di keseharian.

Tak terhitung lembaga, komunitas maupun sosok pribadi lintas latar belakang, yang menggalang dana bagi upaya penanganan Covid-19. Sumbangan berupa APD, masker, hand sanitizer, obatobatan, alat rapid test – meski masih memiliki kekurangan – sangat banyak untuk digalang.

Demikian pula bantuan solidaritas untuk mereka yang mengalami penurunan penghasilan selama pandemi. Selain itu sangat banyak yang membantu edukasi masyarakat terkait pentingnya pembatasan fisik dan higenitas personal.

Jajak pendapat harian Kompas, 3-4 Maret 2020 lalu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia meyakini bangsa ini memiliki kekuatan bertahan dalam situasi darurat.

Masyarakat umumnya masih yakin, kita masih memiliki semangat gotong royong. Keyakinan tersebut mewujud dalam bentuk meningkatnya inisiatif dan partisipasi publik untuk membantu pemerintah memerangi pandemi Covid-19.

Tolong-menolong ala Indonesia ini memang bukanlah hal yang taken for granted. Ia harus selalu dijaga dan ditumbuhkembangkan. Dalam diskusi bersama Radio Idola, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Prof. Dr. Purwo Santoso, MA memaparkan ada sejumlah kendala yang menjadikan semangat gotong-royong itu tidak bekerja.

Baca juga:  Saat Rapid Test Jadi Ladang Bisnis

Kepanikan yang berlebihan, tindakan egois dan koruptif, serta munculnya sentimen sektarian, memurut Prof. Purwo, bisa menumpulkan semangat masyarakat untuk berbagi dan bersolidaritas.

Karenanya harus dijaga agar pandemi ini tetap jadi masalah dan upaya kita dalam kebersamaan. Yang menyebarkan kabar bohong yang membuat panik atau yang menjadikan bencana ini sebagai sarana cari untung dengan cara kotor harus dicegah.

Jangan sampai pula isu-isu sensitif seperti agama dan kesukuan mencuat. Maka, daripada berpangku tangan berharap tolong-menolong ala Indonesia itu terus mewujud. Kita bisa aktif berandil dalam terus merawatnya. **RS

Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.