Yang saya hormati, Mas Nadiem Makarim.

Ketika Anda diumumkan menjadi menteri, terus terang saya sangat senang. Saya melihat pemilihan ini  berdasar pada track record mengelola Gojek. Juga keberhasilan dalam bidang pendidikan yang Anda tempuh. Saya sangat mengapresiasi keluarnya slogan “kampus Merdeka” walaupun selanjutnya menjadi pro dan kontra.

Sudah sangat lama saya menunggu perubahan mendasar di sistem pendidikan kita. Selama ini pendidikan Indonesia, baik tingkat dasar maupun pendidikan tinggi adalah sama atau sekedar memodifikasi kurikulum di negara maju.

Artinya, kita tidak punya kekuatan tersendiri menumbuhkan karakter demi kemajuan bangsa. Walhasil, pendidikan kita dikontrol suasana industri dan akademik di negara lain yang sulit untuk kita samai. Begitu pula, pendidikan kita hanya berkutat pada wacana dan eksekusinya lamban. Pun terkesan singkat.

Saya masih ingat betul ketika kita gencar-gencarnya dengan revolusi industri 4.0. Entah siapa yang memulai di Indonesia, tapi di Eropa sendiri sistem ini diterapkan sekitar tahun 2012. Namun perlu dicatat, mereka sudah maju dalam teknologi sejak 1970-an. Di Indonesia, kita harus bisa melihat realitas bahwa sebagian dari kita masih hidup pada era 1.0 dan 2.0.

Kita tahu akhirnya bagaimana jalannya program ini. Kita kedodoran. Sekolah/universitas yang bagus akan terus maju dan sisanya ketinggalan.

Di kita, mencapai era 4.0 perlu semangat dan kontribusi tinggi dari setiap elemen. Untuk itu, ketika sodoran pendidikan karakter, literasi dan data dimunculkan, saya turut gembira.

Memerdekakan anak muda Indonesia adalah dengan cara meningkatkan karakternya di mata internasional. Saya kira ini adalah metode yang bijak untuk mempertahankan peradaban bangsa Indonesia yang unik sekaligus kompleks.

Mas mungkin sudah pernah keliling dunia dan saya yakin tidak ada negara yang sama dengan kita. Maka, tugas kita bersama mengembangkan pendidikan yang memuat kurikulum seperti yang kita inginkan.

Baca juga:  Keunikan Bahasa Jawa dalam Tingkatan Tutur

Mas Nadiem, saya sepakat dengan quotes yang dipopulerkan oleh Albert Einstein: “Setiap orang itu jenius, tapi kalau kita menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seumur hidup ia akan percaya kalau dirinya bodoh.”

Setiap anak bebas untuk menentukan kebebasan berpikirnya sesuai dengan keluhuran bangsa. Setiap manusia yang diciptakan Tuhan adalah berbeda dan unik.

Disini, saya sepakat dengan program yang Mas sodorkan. Tinggal bagaimana program tersebut tidak habis ketika Anda selesai menjabat. Tinggal bagaimana program tersebut tidak dimasuki kekuatan politik dan kepentingan sepihak. Bahwa pengertian kampus merdeka bukan saja merdeka edukasinya, tapi harus bebas dari politik.

Semoga Mas Nadiem dan semua penggagas konsep ini sehat selalu. Kami doakan dalam kemajemukan agama ini agar bisa menuntaskan kegalauan kita bersama terkait pendidikan.

Penulis: Noir P. Purba (Dosen FPIK Universitas Padjadjaran)

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.