Mungkin saja. Itu adalah jawaban simpel, jika Anda menanyakan pertanyaan seperti judul tulisan ini. Kemajuan dalam mikrobiologi telah memungkinkan kita mengisolasi sejumlah virus dan mengembangkan variannya di laboratorium.

Namun, tanpa dibuat pun virus selalu saja bermutasi. Sambil kita mendiskusikan bahasan ini, bisa jadi di tempat mana, atau bahkan di tubuh kita sendiri, satu atau lebih varian virus baru telah muncul. Kebanyakan mutasi itu tidak berbahaya bagi manusia. Namun kadang kala, cukup satu varian mutasi yang berhasil, bisa jadi ada wabah besar yang membawa petaka.

Memang demikianlah asasinya virus berkembang. Sebagai jasad renik yang membutuhkan sel hidup untuk bertumbuh, virus bisa ada di beragam organisme. Entah manusia, mamalia lain, reptil, unggas hingga serangga.

Keberadaan virus bisa tidak terasa, atau memberi sakit ringan seperti flu pada manusia, atau sekedar hidung basah pada ternak ayam. Namun lewat mutasinya, virus bisa saja berubah menjadi sangat mematikan. Seperti pada kasus pandemi Flu Spanyol 1918, yang disebabkan oleh virus yang bermutasi. Virus H1N1 ini sebenarnya satu keluarga dengan virus influenza biasa.

Virus pun bisa hanya menyerang satu spesies. Contohnya virus ASF yang sejauh ini hanya menyerang babi, tidak berdampak pada peternak, maupun manusia yang mengkonsumsinya. Namun bisa saja melompat antar spesies. Seperti pada kasus virus Ebola, satu kasus mutasi di daerah Makona, Afrika Barat, telah mengubah virus yang awalnya hanya menular dari kera, menjadi sangat cepat menular antar manusia.

Menyadari kenyataan tersebut, maka sebenarnya yang lebih penting untuk dipertimbangkan bukanlah soal virus berasal darimana atau hal provokatif seperti siapa yang membuat. Namun, bagaimana kita menjaga batas pertahanan sebagai umat manusia, agar tidak kalah dari serangkaian mutasi acak virus tersebut.

Baca juga:  Tips Tingkatkan Imunitas Selama Berpuasa

Pemikir asal Israel, Yuval Harari, dalam komentarnya terkait pandemi Covid-19, menyatakan bahwa umat manusia saat ini punya modal yang jauh lebih baik, jika dibandingkan generasi sebelummya.

“Selama abad terakhir, umat manusia telah membentengi diri. Ada tenaga medis, fasilitas kesehatan, vaksinasi, pengaturan higenitas dan banyak hal lain. Sistem perawatan kesehatan modern telah dibangun baik di banyak negara. Ini adalah benteng pertahanan kita,” ungkapnya.

Namun Harari juga menyorot hal itu belum cukup. Ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang bahkan tidak memiliki layanan kesehatan dasar. Ini membahayakan kita semua. Karena sepanjang mereka terinfeksi, ini memberi peluang evolusi virus dalam tubuh manusia yang bisa saja berujung pandemi baru.

Pandemi Covid-19, setidaknya membukakan pada kita, bahwa umat manusia perlu bergandeng tangan saling menjagai. Di tengah sekian banyak kemungkinan bencana, kita tidak boleh sekedar mencari selamat sendiri atau malah menyalahkan pihak lain. Kita perlu sepenanggungan, agar menutup peluang bagi mutasi virus yang membahayakan kehidupan. **RS

Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.