Press "Enter" to skip to content

Cerita Petugas Jenazah di RS Adam Malik Medan

Ini sama sekali bukan April Mop. Rabu 1 April lalu, harusnya Rajiman Sormin sudah resmi pensiun. Ia telah bekerja sebagai petugas jenazah di Rumah Sakit Adam Malik Medan sejak 12 tahun lalu. Tapi, tampaknya ia harus siap jika pensiunnya ditangguhkan.

“Mungkin gara-gara Corona ini, harus balik dinas lagi saya. Kalau resmi dipanggil, ya mesti balik,” ujar Rajiman lempeng, saat diwawancara oleh Al-Jazeera akhir Maret lalu.

Ia sadar risiko yang dialami memang cukup besar. Apalagi saat ini penanganan jenazah perlu protokol kesehatan yang lebih rumit. Belum lagi, reaksi masyarakat yang belum tentu memahami masalah penyebaran virus Covid-19 ini.

“Ya, saya pasrah saja. Kalau dokter perlu bantuan saya, ya saya bantu. Patuhi perintah yang ada dan jaga-jaga. Tapi kalau harus kena penyakit atau meninggal karena tugas ini, ya tidak apa-apa,” lanjut Rajiman.

Apa yang membuat Rajiman mau melakukan ini meskipun berisiko? “Gaji yang saya peroleh kecil kok, tapi saya ingat teman baik saya dokter Ucok Martin,” ia mulai menampilkan mimik serius saat menceritakan bagian ini.

Dr. Ucok Martin, Sp.P adalah dokter spesialis paru di R.S Adam Malik. Ia merupakan PDP Covid-19 pertama di Sumatera Utara dan meninggal dunia pada Selasa (17/3).

“Bang Ucok orangnya sangat ramah. Suka membantu pasien dan keluarga yang tidak mampu. Dia juga tahu saya nggak banyak uang. Saya sering ditraktir makan siang terus pesan lebih banyak buat dibawa pulang,” kenang Rajiman.

Belum banyak diketahui di mana dan bagaimana dr. Martin terpapar virus ini. Selepas perjalanan dari luar negeri, sang dokter masih sempat bekerja seperti biasa, sebelum kemudian dirawat karena masalah pernafasan. Sayang, tes Covid-19 saat itu belum bisa disediakan dengan cepat di Medan.

Baca juga:  Ganjar Pranowo Apresiasi Semangat Nunki Herwanti yang Positif Covid-19 dalam Kondisi Hamil

“Awalnya dia dirontgen, bersih…,” ujar Sormin. “Tapi saat dilakukan rontgen lagi beberapa hari kemudian, paru-parunya penuh warna putih. Rasanya nggak adil ya. Dia menyelamatkan begitu banyak orang dengan kondisi paru-paru seperti itu, tapi justru meninggal karena penyakit itu juga.”

Pengorbanan dr. Martin memang begitu membekas bagi Rajiman. Ini yang menyemangatinya jika harus berdinas kembali di kamar jenazah. Karya kecil dan berisiko, namun penuh dedikasi. **RS

Ilustrasi: Al-Jazeera

Bagikan