Beberapa hari belakangan, Sewa Internasional, komunitas warga India-Amerika menggalang upaya yang unik. Mereka mendorong agar orang yang telah sembuh dari Covid-19 mendonorkan plasma darahnya, untuk dipakai terapi bagi pasien lain.

Inisiatif ini ternyata bukan hanya dikerjakan oleh mereka. Pemerintah Inggris bahkan telah memprogramkan untuk melakukan hal serupa sepanjang April dan Mei ini. Raksasa digital Microsoft pun tengah menggandeng sejumlah perusahaan farmasi untuk mengembangkan chatbot yang memungkinkan orang menyumbangkan plasma darahnya dengan lebih mudah.

Di Indonesia, ahli genetika dan biologi molekuler Fakultas Kedokteran UK Maranatha, dr. Theresia Monica Rahardjo bersama timnya telah berinisiatif mengusulkan kepada pemerintah agar upaya pengobatan yang disebut Terapi Plasma Konvalensen (TPK) ini dapat segera dilakukan. Penelitian telah dikembangkan lebih jauh lewat kerjasama Bio Farma dengan RSPAD Gatot Soebroto dan Lembaga Eijkman.

TPK sebenarnya bukan ide baru. Sejak mewabahnya virus Ebola dan SARS, ia telah dipakai sebagai alternatif pengobatan. Bahkan dalam kasus Covid-19, terapi ini telah dipakai secara terbatas pada beberapa kasus di Wuhan, Italia, New York dan India.

Menurut keterangan dr. Theresia, TPK boleh disebut sebagai bentuk vaksinasi pasif. Plasma darah pasien covid-19 yang sembuh mengandung antibodi diambil, lalu disuntikkan pada pasien yang masih sakit. Diharapkan, antibodi atau kekebalan pasien yang sudah sehat bisa membantu pasien yang masih sakit mengatasi penyakitnya.

Kajian yang ada sejauh ini menunjukkan dampak penggunaan TPK masih bervariasi. Dalam sebuah riset gabungan Kementrian sains dan teknologi Tiongkok terlihat secara umum TPK memberi hasil positif. Meski demikian, derajat pemulihannya masih sangat beragam dan belum diketahui faktor apa yang membuat pasien lebih adaptif terhadap terapi ini.

Baca juga:  Polemik Usulan New Normal di Indonesia

Umumnya, para peneliti menyarankan upaya pengobatan standar tetap dilakukan mendampingi TPK. Terapi juga perlu diawasi dengan sangat hati-hati untuk memastikan plasma darah tidak terinfeksi penyakit lain.

Di atas semua keterbatasan yang ada, terapi ini menjanjikan harapan baru. Para survivor Covid-19 pun dapat berkontribusi menolong sesamanya dengan menyumbangkan plasma darah. Suatu bentuk kolaborasi yang mungkin akan membuat kita makin memaknai pentingnya kemanusiaan. **RS

Sumber: Kompas.com, CNN Indonesia, Pnas.org
Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.