Empat minggu menjalani kerja dari rumah karena Covid-19. Awalnya terasa sangat berat. Saat bekerja dan mulai menulis berbagai konsep dan laporan saya harus stay connect dengan kedua anak balita. Saya tidak bisa membiarkan ‘krucil’ main tanpa pengawasan dan perhatian.

Apalagi sekarang memasuki bulan Ramadhan. Momen umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Tidak makan-minum selama sehari penuh. Tentu energi kita tidak seperti bulan-bulan biasanya bukan? tidak bisa lagi minum kopi di pagi dan siang hari? Tidak ada mood booster untuk menulis.

Namun, Saya melakukan adaptasi dan mencari celah. Poin penting dari covid-19 ini adalah bagaimana cepat beradaptasi. Menemukan peluang-peluang di tengah kesulitan. Belajar dan terus belajar.

Berikut lima tips supaya lancar menulis dan produktif di bulan puasa dan tetap harus work from home.

Mindful dan rileks
Tetaplah terhubung dengan lingkungan Anda. Jika Anda berapa di rumah bersama anak dan keluarga, maka tetap perhatikan mereka. Jika Anda membutuhkan waktu sendiri mengerjakan tugas kantor atau menulis, komunikasikan dengan mereka.

Kerjaan mungkin akan menumpuk, tapi rileks adalah kunci untuk bisa menyelesaikan pekerjaan satu persatu. Otak manusia itu seperti PC atau komputer. Semakin banyak jendela atau program yang dibuka, maka kecepatan komputer merespon akan semakin lambat dan power yang digunakan besar. Maka, fokuslah dan pada satu tugas dan selesaikan tugas lainnya secara berurutan.

Selesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas
Membuat kategori dan skala prioritas kerjaan kedengarannya mudah dilakukan. Tapi, jarang kita pakai. Pengalaman saya, manfaatnya sangat besar. Cobalah Anda buat daftar kerjaan dan selesaikan berdasarkan skala prioritas. Dengan ini, Anda akan menemukan ritme kerja yang menyenangkan.

Buatlah skala prioritas kerjaan kantor, rumah tangga, kesehatan, dan lain-lain. Anda juga bisa membuat jurnal-jurnal kecil untuk evaluasi skala prioritas yang sudah Anda buat. Apakah sudah efektif?

Baca juga:  Seni Tersesat Saat Traveling

Menulislah hanya untuk menulis
Menulis adalah sebuah hobi yang sangat menyenangkan. Anda bisa mengutarakan ide, gagasan, curhat dan itu membuat Anda lega. Menulislah apa adanya.

Anda dapat menentukan tujuan menulis untuk goals tertentu. Tapi ingat, goals itu bisa menjadi jebakan. Misalnya begini. Anda menulis dengan target diterima oleh media masa. Maka Anda berusaha sekuat tenaga untuk menulis. Namun jika tulisan Anda tidak diterima, anda akan kecewa. Anda bisa saja putus asa dan tidak mau menulis kembali. Ini jebakan bukan?

Jadi saran saya, tanamkan dalam mindset Anda. Menulislah hanya untuk menulis. Buat kebiasan-kebiasan kecil untuk rutin menulis. Hal ini yang justru lebih penting.

Jangan berpikir untuk sempurna
Tulisan bagus adalah tulisan yang diselesaikan. Bagus-jelek biarlah urusan pembaca. ‘Sempurna’ menulis bukan pada kualitas tulisan. Tapi proses yang berlanjut.

Penulis handal adalah penulis yang berkarya konsisten. Kualitas mengikuti sejauh mana bertahan dalam proses.

Penting nih, manajemen energi
Dulu orang berpikir, manajemen waktu. Mengatur jadwal, keluarga, pertemuan, dan berbagai hal dengan waktu. Memperkirakan waktu tempuh, macet, dan lain sebagainya. Di kota padat seperti Jakarta, sehari hanya dapat 2 atau 3 pertemuan. Itupun badan terasa sangat capek. Ibarat tua di jalan, macet bisa 2–3 jam.

Sekarang, teknologi membantu kita. Pertemuan fisik bisa diminimalkan atau tidak perlu. Anda cukup mengatur energi dengan baik dan benar. Sediakan energi untuk kegiatan prioritas dahulu.

Terutama puasa seperti ini. Kerjakan hal prioritas di pagi hari. Karena setelah setengah hari, biasanya perut sudah mulai lapar dan bego. Demikian tips sederhana, semoga bermanfaat. **MM

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.